Author:
• Friday, March 19th, 2010

Sebelum menentukan hukumnya, perlu dipastikan terlebih dahulu bagaimana prosesi pelaksanaan acara tujuh bulanan itu. Apakah ada unsur syiriknya atau tidak ? Ada unsur hura-hura, berlebih-lebihan atau tidak ? Atau hal-hal lain yang jelas dilarang dalam agama. Kalau di dalam pelaksanaanya tidak ada unsur-unsur yang jelas dilarang dalam Islam, misalnya dalam acara tersebut yang mengadakan acara berniat ingin mempererat silahturahmi dengan warga, kemudian bermaksud ingin berbagi rezeki, karena yang mengadakan acara sedang bergembira dan bersyukur kepada Allah SWT atas karunia yang diberikan, dan dia berharap dengan menjamu mereka dan meminta doa restu kepada mereka supaya bayi yang dikandung sehat, dan lahir dengan selamat, maka kegiatan acara tujuh bulanan seperti itu diperbolehkan. Karena niatnya sesuai dengan anjuran dan ajaran agama Islam.

Dan kegiatan seperti itu bukanlah sebuah ritual. Itu sama seperti anda mengundang orang datang ke rumah anda untuk acara jamuan makan. Alangkah baiknya sementara para tamu sudah datang, mereka diajak untuk membaca ayat-ayat Al Quran dan mengucapkan kalimat-kalimat thayyibah (dzikir), sembari anda pun meminta mereka mendoakan kebaikan untuk anda. Dari pada mereka anda undang datang ke rumah anda hanya sekedar kumpul-kumpul, makan-makan dan anda katakan, acara ini saya laksanakan sebagai tanda syukur saya kepada Allah SWT, tetapi kegiatannya tidak mencerminkan syukur.

Memang acara tujuh bulanan hanya ada di Indonesia, khususnya di Jawa. Namun seyogyanya, dalam menyikapi sesuatu kita tidak hanya melihat penamaannya, seperti tujuh bulanan, tapi kita harus melihat subtansi perbuatannya.

Wallahu a’lam bi al-shawab

Sumber : H.M. Rahmatullah, Lc

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

2 Responses

  1. 1
    ahmad 

    syukron atas ilmunya,,,tapi maaf ya..kok anda dalam berhujjah boleh tidaknya hanya menggunakan nalar antum..sementara judul artikel anda Tentang HuKUM sesuatu…..

  2. 2
    boy 

    Maaf sepertiny saya tidak setuju dengan pendapat Anda, karena tidak ada tuntunannya didalam Al-Qur’an dan Sunnah, dan dimaknai adalah Bid’ah, Bid’ah adalah hukumnya Haram, sesuatu tentang Ibadah kita harus mengikuti Rasulullah SAW, tp klw kita melakukan tentang Ibadah yg tidak pernah sama sekali Rasulallah SAW tidak pernah melakukannya, apa pangkatnya kita? apakah kita merasa lebih tinggi dari Beliau, untuk hal 7 bulanan ini, selain tradisi tapi mereka menganggap pernah dilakukan oleh Rasulullah dan menganggap ini adalah ibadah, Ingat, Bid’ah lebih kejam dari seorang yg menjadi pelacur, karena Pelacur ketika sudah tua tidak laku dan mungkin saja bertobat, tapi klw orang ahli Bid’ah tanpa hidayah mereka tidaka akan bertaubat, coz menganggap ap yg dikerjakannya adalah ibadah

Leave a Reply