Author:
• Monday, March 29th, 2010

Berikut jawaban dari pertanyaan yang dijadikan judul pada artikel ini:

Pada prinsipnya sholat tidak boleh ditinggalkan dengan sengaja, meski dalam keadaan sekalipun. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Daud (No. 952), Al Tirmidzi (No.372), Ibnu Majah (No. 1223), dan Ahmad,….Rasulullah SAW bersabda, shalatlah berdiri, jika tidak mampu, shalatlah sambil duduk! Jika masih tidak mampu shalatlah sambil terbaring!”. Maka menurut pendapat yang mengacu pada hadits ini, tidak ada fidyah shalat.

Namun ada hadits riwayat Al-Nasa’i dalam kitabnya Al-Sunan Al-Kubra (IV/43) dan Al-Thahthawi dalam kitabnya Musykil al-Atsar (III/14!) yang semuanya disandarkan kepada Ibnu Abbas ra. yang artinya, “Seseorang tidak dapat menggantikan shalat atau puasa orang lain, tapi dia dapat menggantinya (berupa Fidyah) dengan makanan, setiap harinya satu mud gandum.” Hadits ini dijadikan landasan bagi sebagian umat Islam untuk membayar Fidyah sebagai pengganti shalat yang ditinggalkan. Memang hadits ini adalah merupakan hadits mauquf (perkataan sahabat), namun sebagian ulama menjadikan perkataan para sahabat sebagai salah satu sumber hukum, selama sanadnya shahih. Pastilah hadits yang disandarkan kepada Rasulullah Saw lebih utama dari pada perkataan para sahabat.

Setiap ahli waris pasti menginginkan ayahnya atau ibunya yang meninggal dunia diampuni dosa-dosanya. Namun, ketika ahli waris tahu bahwa jenazah pernah meninggalkan shalat semasa hidupnya, maka akan menambah kesediahan mereka. Mungkin ini pula yang menjadi alasan sebagian kaum muslimin yang melakukan fidyah, meringankan kesedihan keluarrga yang ditinggal, karena dengan fidyah memberikan harapan kepada mereka ayah atau ibu yang meninggal dunia mendapat ampunan. Namun perlu dicatat, bahwa berdosa seseorang yang meninggalkan shalat dengan sengaja karena mengganggap dapat diganti dengan fidyah.

Wallahu a’lam bi al-shawwab

Sumber: H.M. Rahmatullah, Lc.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

5 Responses

  1. 1
    izza sodikin 

    ya itulah sebagai motifasi untuk beramal yang pahalnya untuk yang udah meninggal lebih banyak manfaatnya

  2. 2
    alfarizi 

    setahu saya dari beberapa kitab yang saya kaji dan saya temukan,,,daripada di bayar dengan pidyah,lebih baik diganti dengan sholat oleh keluarganya yang mampu melaksanakan sholat sebagai bentuk berterima kasih atas jasa orangtua yang telah mendidik sholat kepada kita.
    dalam kowaid ushulfikih”la fidyata lissholat”tidak ada pidyah untuk sholat melainkan hanya untuk puasa saja,itu juga kalo benar-benar tidak mampu mengkodho sampai ia meninggal,maka bagi keluarganya diwajibkan menggantikannya dengan pidyah.

  3. 3
    alfarizi 

    untuk pelaksanaannya,,,bukanlah berniat mengkodho sholat seseorang,melainkan sholat seperti biasanya dalam arti 2 atau 3 sholat dalam satu waktu,,setelah selesai sholat yang dimaksud di khusukan buat almarhum tersebut,dengan tujun menghadiahkan padilah sholat tersebut,semoga menjadi tebusan akan kewajibannya yang tertinggal.

  4. 4
    al baraiz 

    Pada prinsipnya sholat tidak boleh ditinggalkan dengan sengaja, meski dalam keadaan sekalipun. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Daud (No. 952), Al Tirmidzi (No.372), Ibnu Majah (No. 1223), dan Ahmad,….Rasulullah SAW bersabda, shalatlah berdiri, jika tidak mampu, shalatlah sambil duduk! Jika masih tidak mampu shalatlah sambil terbaring!”. Maka menurut pendapat yang mengacu pada hadits ini, tidak ada fidyah shalat.
    membayar shalat dengan shalat aja tidak bisa apalagi membayar dengan beras/uang/emas,dll. itu jika kita kembali kepada Al qur’an & Hadist karena ini menyangkut kewajiban setiap Individu muslim, Jadi Muslim Ber Prinsiplah ??

  5. 5
    nasir 

    Kalau bicara hukum Ibadan mahdah jgn bawa peran tapi cari dalil. Jgn menpersulit diri jika ada kemudahan

Leave a Reply