Archive for the Category ◊ Artikel Kambing ◊

Author:
• Wednesday, February 22nd, 2012

Jika anda menderita darah rendah maka makanlah sate kambing, begitulah banyak orang berkelakar akan manfaat daging kambing. Tetapi bagi yang memiliki tekanan darah tinggi berhati-hatilah dengan kambing.

Daging kambing ternayata lebih menyehatkan ketimbang jenis daging lainnya. Dalam 100 gram daging kambing terdapat 154 kalori, 9.2 mg lemak, 3.6 mg lemak jenuh. Selain itu, daging kambing juga salah satu sumber zat besi, vitamin B, kolin, dan selenium terbaik. Namun, lemak kambing justru memiliki persentase kolesterol lebih tinggi jika dibandingkan dengan daging ayam atau sapi. Maka itu, lebih baik mengonsumsi daging kambing yang berusia dibawah 6 bulan meski harganya mungkin sedikit lebih mahal.

Rata-rata bagi yang memiliki penyakit darah rendah, dianjurkan 2 hari sekali untuk memakan sate kambing, terutama bagian hatinya beberapa tusuk untuk meningkatkan tekanan darah. Memang belum ada uji medis tentang hal tersebut, tetapi telah banyak bukti bahwa memakan daging kambing dapat meningkatkan tekanan darah.

Torpedo kambing juga banyak diburu kaum lelaki karena khasiatnya untuk meningkatkan potensi seksual. Tetapi untuk masalah vitalitas seksual ini tidak hanya torpedo kambing saja, banyak yang meyakini bahwa empedu kambing juga cukup berkhasiat. Perbedaannya adalah, jika topedo harus dimask/disate, sedangkan empedu harus ditelan mentah-mentah. Bahkan mengonsumsi empedu kambing juga dapat menyembuhkan penyakit malaria. Dalam beberapa buku pengobatan Cina, memang terdapat empedu untuk mengobati malaria, misalkan empedu ular. Akan tetapi ternyata empedu kambing juga memiliki khasiat yang sama dengan empedu ular.

Ada satu lagi khasiat dari kambing yang perlu diketahui, yaitu susu. Susu kambing terutama jenis kambing etawa, memiliki banyak kelebihan dibanding dengan susu hewan pemamah biak yang lain. Susu kambing mengandung Flourin yang kadarnya 10-100 kali lebih besar dar pada susu sapi dan bersifat anti bakteri,  memiliki protein, lemak yang mudah dicerna, sodium (Na), fosfor (P), serta kandungan kalsium (Ca) yang tinggi.

Susu kambing sangat baik bagi penderita penyakit kulit, seperti eksim serta gatal-gatal. Tidak hanya itu, susu kambing juga dapat mengembalikan kesehatan seorang ibu yang baru melahirkan, menyembuhkan pendarahan sesudah melahirkan, memulihkan zat besi sesudah haid, menyembuhkan penyakit kurang darah, menghambat kerapuhan tulang (osteoporosis), mengatasi penyakit TBC dan asma, bahkan mampu mengontrol kadar kolesterol dalam darah, menyembuhkan asam urat tinggi serta kelainan ginjal yang disebut Nepbratic Syndrom.

Sumber: Buku Ensiklopedi Binatang Penyembuh oleh Astri D Hadi

Author:
• Sunday, May 29th, 2011

Biasanya, kambing potong dipasarkan bersamaan dengan domba, bahkan dengan sapi di pasar hewan. Daging asal ruminansia kecil ini mempunyai pasar yang sangat spesifik, tetapi membutuhkan jumlah ternak yang tidak sedikit. Pasar bagi daging dapat digolongkan menjadi dua bagian besar, yaitu pasar tradisional bagi masyarakat perdesaan dan sebagian masyarakat kota serta pasar khusus bagi masyarakat kota. Kedua jenia konsumen daging kambing ini memiliki karakteristik yang berbeda.

Konsumen masyarakat kota lebih memperhatikan masalah kesehatan hewan (daging), cara penanganan, dan pembagian jenis daging. Sementara, konsumen dari pasar tradisional tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut.

Di pasar tradisional, daging kambing dibeli pedagang dari peternak yang kemudian dipotong di rumah pemotongan hewan atau dipotong sendiri. Penjualan daging ini dilakukan di pasar umum. Masyarakat kota umumnya membeli hewan (daging) dari pedagang daging yang telah disertifikasi. Daging dipotong di rumah pemotongan hewan dan dijual di supermarket atau di toko khusus yang menjual daging. Sementara di hotel dan restoran, selain membeli dari supermarket, pengelolanya juga membeli dari pemasok yang khusus mengantarkan daging ke restoran sesuai dengan pesanan.

Tingkat permintaan daging kambing tidak terlalu fluktuatif sepanjang tahun. Namun, permintaan akan meningkat dengan cepat pada saat Hari Raya Idul Adha. Pada hari raya tersebut, permintaan daging akan meningkat dan harga pun akan naik. Pada Hari Raya Idul Adha, kambing yang dijual hidup harus sehat dan tidak cacat. Pasar potensial lain yaitu pedagang sate, gulai, tongseng dan sup kambing.

Sumber: Buku Petunjuk Praktis Menggemukkan Domba, Kambing, Dan Sapi Potong

Author:
• Saturday, May 14th, 2011

Berikut ini kami ingin berbagi informasi seputar jenis-jenis penyakit yang sering dialami oleh kambing dan juga penyebab munculnya penyakit beserta cara pengendaliannya.

1. Pneumonia

Umumnya, serangan pneumonia disebabkan keadaan udara yang lembap, dingin dan kotor. Pneumonia sering menyerang kambing yang kurang baik pemeliharaannya. Kambing yang terserang pnemonia menunjukkan gejala seperti sulit bernafas, nafsu makan hilang, sering batuk dan demam.

Pencegahan pneumonia bisa dilakukan dengan cara menjaga kandang agar tidak lembap, selalu bersih, serta memperbaiki sirkulasi udara, tidak ada genangan air di sekitar kandang, menutup kandang jika angin kencang, dan memisahkan kambing yang sakit dengan kambing yangs ehat. Pengobatan dapat dilakukan dengan memberikan preparat antibiotik, tetapi harus sepengetahuan dokter hewan atau mantri hewan setempat.

2. Konstipasi

Konstipasi biasa menyerang anak kambing karena kotoran pertama yang berwarna hitam mengental dan keras. Akibatnya, kotoran yang biasanya dikeluarkan beberapa jam setelah kelahiran tersebut tidak bisa keluar. Gejala konstipasi terlihat dari anak kambing yang memperlihatkan tanda-tanda susah buang kotoran, berguling-guling, dan sering mengembik.

Pencegahan pada penyakit ini dapat dilakukan dengan cara memberikan pakan yang cukup. Sementara itu, pengobatan konstipasi dapat dilakukan dengan memberikan minyak sayur sebanyak satu sendok makan pada kambing.

3. Kembung (Bloat)

Penyakit kembung terjadi karena kambing dilepas dan memakan rumput yang masih basah, sehingga timbul gas dalam pencernaan yang tidak bisa dikeluarkan dari dalam perut. Kambing yang menderita kembung terlihat dari bagian perut sebelah kirinya yang membesar, punggung membungkuk, dan frekuensi pernapasan meningkat. Penyakit kembung yang tidak segera diatasi dapat menyebabkan kematian.

Pencegahan penyakit ini dapat dilakukan dengan tidak memberi kambing pakan yang masih basah atau tidak melepas kambing yang lapar terlalu pagi, karena rumput masih basah oleh embun. Pengobatan penyakit ini dapat dilakukan dengan cara menekan-nekan perut bagian bawah dengan menggunakan bambu utuh. Sambil ditekan dengan bambu, angkat hewan sampai gas keluar.

4. Ecthyma Contagiosa (Orf)

Penyakit ecthyma contagiosa disebabkan virus yang bersifat zoonosis, yaitu bisa menular kepada manusia. Gejalanya terdapat luka di sekitar mulut yang bisa menyebar ke sela-sela kuku. Akibatnya badan kambing menjadi kurus karena nafsu makan menurun. Penyakit ini bisa sembuh dengan sendirinya setelah 4 minggu. Namun bisa mengakibatkan kematian jika terjadi infeksi sekunder.

Pencegahan penyakit ini bisa dilakukan dengan mengkarantinakan kambing yang berasal dari tempat lain selama 2-3 minggu atau mengisolasi kambing yang diduga menderita penyakit tersebut. Pengobatan dilakukan dengan memberikan antibiotika leukomosin. Antibiotik tersebut untuk mencegah infeksi sekunder yang bisa menyebabkan kematian.

5. Keracunan

Keracunan disebabkan  kambing mengonsumsi pakan hijauan yang mengandung racun. Gejalanya, kambing mengalami kejang-kejang, mulut berbusa, selaput lendir mata berwarna kebiru-biruan, dan kotoran bercampur darah. Pada kondisi yang parah bisa menyebabkan kematian yang mendadak.

Pada kasus keracunan yang diketahui secara dini, pemberian tablet norit atau air kelapa muda bisa menyelamatkan kambing dari kematian. Namun jika sudah akut, kambing sulit tertolong. Pencegahan dilakukan dengan cara tidak memberikan hijauan yang mengandung racun, seperti daun singkong segar, dan hijauan yang masih muda. Selain itu, harap diperhatikan tempat dimana kambing digembalakan, jangan sampai ada tanaman beracun yang bisa termakan oleh kambing. Daun singkong dan hijauan lain dapat diberikan jika dilakukan terlebih dahulu selama 3-4 jam.

6. Cacingan

Cacingan disebabkan oleh serangan cacing haemonchus cocortus yang hidup bersama cacing lain. Cacing ini melekat pada selaput usus dan mengisap sari makanan. Kambing penderita cacingan tidak bisa gemuk, meskipun makannya banyak. Biasanya anak kambing berumur 3-4 bulan yang terserang penyakit ini bisa menjadi kurus, bahkan mengalami kematian.

Gejalanya yaitu kambing susah buang kotoran, kotoran yang keluar pada awalnya keras lalu lunak dan akhirnya mencret, akibatnya bulu dekat anus menjadi kotor oleh kotoran mencret. Selain itu, perut kambing terlihat besar, bulunya kasar (tidak mengilap), dan terlihat lesu.

Pencegahan penyakit cacingan dapat dilakukan dengan cara menjaga kebersihan kandang dan menggembalakan kambing pada siang hari agar tidak ada lagi telur cacing yang menempel di rumput. Seluruh kambing diberi obat cacing, terutama bila ada kambing yang terserang cacingan. Untuk obat cacing yang biasa digunakan antara lain cetarin concurat, wormex powder, atau pheno plus dosis 5-10 g/ekor, diberikan melalui air minum setiap 3 bulan sekali. Atau sesuai dosis yang ada dalam kemasan. Sebelum pemberian obat cacing, kambing dipuasakan terlebih dahulu selama 12 bulan.

Sumber: Buku Petunjuk Praktis Menggemukkan Domba, Kambing, dan Sapi Potong

Author:
• Thursday, March 31st, 2011

Dalam kehidupannya, ternak kambing memerlukan beberapa jenis pakan. Berikut adalah penjelasan tentang jenis-jenis pakan yang diperlukan oleh kambing.

1. Pakan Hijauan

Pakan hijauan terdiri dari dua jenis, yaitu pakan dari rumput-rumputan dan pakan dari legume. Pakan rumput-rumputan diantaranya rumput gajah, rumput benggala, rumput raja dan turi. Sedangkan contoh pakan legume antara lain seperti lamtoro, kaliandra, kacang-kacangan, dan harendong. Namun, daun-daunan hijau lebih disukai oleh kambing dibandingkan rumput. Komposisi masing-masing pakan tergantung pada kebutuhan ternak, yaitu antara kambing menyusui, pemacek dan dewasa.

Campuran daun-daunan dan rumput dengan perbandingan 1 : 1 akan saling melengkapi dan menjamin ketersediaan gizi yang lebih baik. Di samping itu, kambing tidak cepat bosan melahap pakan hijau yang tersedia. Hindari pemberian hijauan yang masih muda. Jika terpaksa digunakan hendaknya diangin-anginkan terlebih dahulu selama 3-4 jam, untuk menghindari terjadinya bloat (kembung) pada kambing.

2. Pakan Limbah Industri dan Pertanian

Selain pakan hijauan, kambing juga menyukai pakan yang berasal dari limbah pertanian. Limbah industri yang dapat dijadikan pakan antara lain seperti ampas tahu, ampas tempe, ampas singkong, bungkil kedelai, bungkil kacang tanah, dedak padi, dan dedak jagung. Sementara contoh limbah pertanian antara lain seperti jerami padi, jerami jagung, daun singkong, daun nangka dan limbah kelapa.

3. Pakan Tambahan

Pakan tambahan berguna untuk memenuhi kebutuhan mineral dan meningkatkan nafsu makan. Selain itu, pakan tambahan ini bermanfaat untuk menutupi kekurangan zat gizi yang terdapat pada hijauan. Sumber pakan tambahan berupa campuran mineral (mineral mix) dari garam dapur, kapur, dan premix.

Sumber: Buku Petunjuk Praktis Menggemukan Domba, Kambing & Sapi Potong

Author:
• Friday, March 04th, 2011

Lokasi kandang kambing sebaiknya jauh dari pemukiman penduduk, berada diatas tanah yang padat atau tidak mudah becek ketika hujan, cukup sinar matahari, kelembapan 60-70%, dekat dengan sumber air, dan mudah dijangkau oleh kendaraan umum. Kandang hendaknya dibuat membujur dari arah timur ke barat, diusahakan juga kandang menghadap timur agar sinar matahari pagi dapat masuk ke dalam kandang.

Apabila lokasi peternakan berada di daerah yang embusan anginnya kencang, peternak hendaknya menanami sekeliling kandang dengan pepohonan agar dapat melindungi kandang dari embusan angin keras secara lansgung. Selain mengurangi embusan angin, daun dan buah pohom dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak.

Ukuran Kandang Kambing

Seekor kambing dewasa membutuhkan ruang seluas 1 x 1.5 m. Dengan begitu, kandang seluas 1.5 x 10 m cukup untuk menempatkan 10 ekor kambing. Tinggi lantai dari permukaan tanah 75-100 cm. Sekat kandang sebaiknya dapat digeser agar mudah mengatur ruangan sesuai kebutuhan dan tingginya 70-80 cm. Dasar kolong kandang dibuat dari bahan semen untuk menampung dan mempermudahkan peternak membersihkan kotoran.

Bahan Penyusun Kandang Kambing

Atap dari kandang kambing disarankan terbuat dari bahan-bahan yang ringan. Sebaiknya menggunakan rumbia, seng, asbes, alang-alang, genting sebagai bahan yang digunakan sebagai atap kandang. Untuk daerah yang bersuhu panas, disarankan menggunakan bahan yang daya serapnya kecil seperti rumbia atau genting. Sementara itu, untuk lokasi yang bersuhu dingin disarankan atap terbuat dari bahan yang daya serap panasnya tinggi.

Untuk alas kandang kambing bisa langsung menggunakan tanah atau terbuat dari semen, papan, atau belahan bambu, tergantung jenis kandang yang digunakan. Lantai kandang dibuat miring kurang lebih 10 derajat dan bahannya harus mudah menyerap air agar kandang tetap kering ketika dibersihkan. Dinding kandang dapat dibuat dari belahan bambu, kayu bekas bangunan atau bahan-bahan lain yang mudah diperoleh di daerah setempat.

Sumber: Buku Petunjuk Praktis Menggemukkan Domba, Kambing, & Sapi Potong

Author:
• Thursday, February 24th, 2011

Berikut adalah beberapa hal yang biasa dilakukan untuk melakukan perawatan pada kambing.

1. Sanitasi Pada Kandang Kambing

Kandang kambing harus dibersihkan rutin setiap pagi, terutama lantai yang penuh dengan kotoran kambing. Tempat pakan dan tempat minum juga harus dibersihkan tiap hari untuk mencegah penyebaran penyakit melalui makanan dan minuman. Setidaknya setiap 6 bulan sekali kandang sebaiknya dikosongkan dan disemprot dengan disinfektan dengan tujuan membunuh mkroba penyebab penyakit.

2. Pemberian Obat Cacing Pada Kambing

Cacing merupakan parasit dalam tubuh yang mengakibatkan ternak menjadi kurus, meskipun telah makan banyak. Umumnya, obat cacing diberikan 2-3 bulan sekali, lewat mulut atau lewat suntikan. Obat cacing yang diberikan lewat mulut adalah albandazole sebanyak 10-20 mb/kg BB (berat badan kambing yang diberi obat), febendazole sebanyak 0,2-0,25 ml/kg BB. Sementara obat yang diberikan lewat suntikan adalah dovanile sebanyak 0,1 ml/kg BB.

Vaksinasi untuk ternak kambing biasanya dilakukan oleh mantri hewan atau petugas dinas peternakan secara serentak di wilayah tertentu yang diduga akan terjadi penyebaran penyakit menular. Vaksinasi terutama dilakukan untuk mencegah terkena penyakit mulut dan kuku (PMK) serta dakangan (orf).

3. Pencukuran Bulu Kambing

Bulu kambing perlu juga dicukur untuk mengatur panas tubuh dan menjaga kesehatan kambing. Pencukuran bulu kambing biasanya dilakukan setelah kambing dimadikan. Ketika dicukur, kaki kambing perlu diikat untuk mempermudah pencukuran bulu.

4. Pemotongan Kuku Pada Kambing

Kuku kambing yang panjang akan membuat kambing mudah terkena infeksi, terpeleset dan tidak bisa menjaga keseimbangan ketika berjalan. Karena itu, kuku yang sudah panjang harus dipotong dengan gunting tajam, setidaknya setiap dua bulan sekali. Selain itu, kotoran yang berada di sela-sela kuku juga harus dibersihkan.

5. Pemotongan Tanduk Kambing Bakalan

Tanduk kambing yang tajam bisa melukai kambing lain yang sekandang. Selain itu, fungsi tanduk dalam peternakan sering kali tidak diperlukan. Karena itu, ketika kambing berumur 2-3 bulan, peternak akan memanasi tempat tumbuh tanduk dengan cara menempelkan besi membara di tanduk. Kemudian, bagian yang dipanasi tadi diolesi dengan vaselin atau salep antibiotik untuk mencegah infeksi. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah tumbuhnya tanduk. Namun, kegiatan ini kurang efisien karena sering membuat kambing menjadi stres.

6. Mengeluarkan Kambing Dari Kandang (Olahraga)

Berdasarkan pengalaman peternak, kambing yang sering dikeluarkan dari kandang memiliki tingkat pertumbuhan dan daya tahan yang lebih bagus dibandingkan dengan kambing yang terus dikandangkan. Aktivitas kambing di luar kandang juga membantu kambing dalam mengendorkan otot-otot. Untuk sistem pemeliharaan secara intensif, biasanya kambing tidak digembalakan keluar kandang.

7. Memberi Tanda Pada Kambing

Untuk memudahkan pengenalan, ternak perlu diberi tanda pengenal. Di beberapa peternakan yangg sudah maju, setiap kambing memiliki tanda yang khas. Misalnya, diberi nomor pada telinga dengan cara mentatonya, memberikan kalung bernomor di setiap leher ternak atau dengan memakaikan nomor tag.

Sumber: Buku Petunjuk Praktis Menggemukkan Domba, Kambing dan Sapi Potong

Author:
• Thursday, February 17th, 2011

Berdasarkan jumlah kambing yang diternakan, kandang dibagi dua jenis. yaitu kandang individu dan kandang koloni. kandang individu biasa digunakan untuk induk kambing yang sedang bunting, laktasi atau pejantan. Sementara itu, kandang koloni biasa digunakan untuk pembesaran.

Sedangkan dari jenis konstruksi, kandang kambing dibedakan menjadi kandang lemprak dan kandang panggung. Berikut penjelasan kedua tipe kandang tersebut.

1. Kandang Lemprak

Kandang lemprak dicirikan dengan lantai yang menggunakan tanah sebagai alas. Lantai sebaiknya dibuat dari semen dengan corak kasar agar lantai tidak licin dan mudah dibersihkan. Lantai juga dibuat sedikit miring ke satu arah untuk mencegah adanya genangan air setelah kandang dibersihkan.

2. Kandang Panggung

Kandang panggung dicirikan dengan adanya tiang penyangga, sehingga lantai berada di atas tanah, dan berjarak 0,5 – 1 M dari atas permukaan tanah. Lantai kandang panggung biasanya dibuat dari papan atau potongan bambu dan memiliki tiang penyangga. Konstruksi kandang panggung lebih disukai dan lebih disarankan untuk digunakan dibandingkan dengan kandang lemprak, walaupun biaya pembuatannya lebih mahal.

Untuk menghindari kaki kambing terperosok, diusahakan lubang antar papan atau potongan bambu tidak lebih besar daripada kaki kambing. Lubang tersebut juga berfungsi untuk mengeluarkan kotoran sehingga kandang senantiasa dalam keadaan bersih.

Sumber: Buku Petunjuk Praktis Menggemukkan Domba, kambing, dan Sapi Potong

Author:
• Friday, March 19th, 2010

Pemilihan kambing bakalan yang bermutu diperlukan untuk menghasilkan keturunan yang lebih baik. Calon kambing bakalan sebaiknya berasal dari daerah setempat yang bebas dari penyakit dan beriklim kurang lebih sama.

Jika perlu pilih kambing yang mempunyai surat keterangan kesehatan hewan dan surat keterangan layak bibit, yang dikeluarkan oleh dinas yang menangani subsektor peternakan.

Karakteristik kambing bakalan yang baik, diantaranya memiliki tubuh yang sehat, postur tubuh bagus, mata bersinar cerah, tajam, tidak cacat tubuh, serta bulunya halus dan mengilap. Selain itu, kambing memiliki kemampuan pertambahan berat badan yang cepat dan konversi pakan yang baik.

Bakalan kambing jantan muda lebih cocok untuk digemukan daripada kambing betina, sebab pertambahan berat badan kambing jantan lebih tinggi. Disamping itu, kambing betina masih diperlukan untuk perkembangbiakan anak. Kambing paling responsif terhadap pakan sejak masa lepas sapi, yaitu saat berumur 7 – 8 bulan sampai ternak mengalami dewasa kelamin atau berumur 10 – 12 bulan.

Sumber: Buku Petunjuk Praktis Menggemukkan Domba, Kambing, dan Sapi Potong

Author:
• Friday, February 26th, 2010

Pemilihan kambing bakalan disesuaikan dengan tujuan usaha, misalnya kambing kacang untuk produksi daging, sedangkan kambing etawa untuk produksi susu. Berikut jenis-jenis kambing pedaging yang dapat digunakan sebagai ternak.

1. Kambing Kacang

Kambing kacang merupakan kambing asli Indonesia yang dapat pula ditemukan di Malaysia dan Filipina. Perkembangbiakan kambing kacang sangat cepat, bahkan pada umur 15-18 bulan sudah dapat menghasilkan keturunan. Kambing ini cocok digunakan sebagai penghasil daging dan kulit.

Kambing kacang bersifat prolifik (sering melahirkan anak kembar 2 atau 3), lincah, dan tahan terhaddap berbagai kondisi, dan mampu beradaptasi dengan baik di berbagai lingkungan berbeda, termasuk dalam kondisi pemeliharaan yang sangat sederhana. Bulu kambing kacang cukup pendek dan berwarna hitam, cokelat, putih, atau campuran ketiga warna tersebut.

2. Kambing Peranakan Ettawa (PE)

Kambing PE mmerupakan hasil persilangan antara kambing ettawa (asal India) dengan kambing kacang. Kambing PE dimanfaatkan sebagai penghasil daging dan susu (perah). Penampilan kambing PE mirip dengan kambing ettawa, tetapi peranakan tubuhnya lebih kecil. Peranakan yang penampilannya mirip kambing kacang disebut bligon atau jawarandu, yang merupakan tipe pedaging.

Karakteristik kambing PE, antara lain bentuk muka cembung melengkung dan dagu berjanggut, terdapat gelambir di bawah leher yang tumbuh dari sudut janggut, telinga panjang, lembek, menggantung, dan ujungnya agak berlipat, ujung tanduk agak melengkung, tubuh tinggi, pipih, bentuk garis punggung mengombak ke belakang sedangkan bulu tumbuh panjang di bagian leher, pundak, punggung, dan paha. Bulu paha panjang dan tebal.

3. Kambing Gembrong

Kambing gembrong merupakan keturunan kambing angora yang sudah menjadi ras tersendiri di Bali. Kambing ini berwarna putih, jantan dan betinanya bertanduk, telinga rebah, serta bulunya lebat dan panjang (terkenal dengan istilah mohar). Berat kambing gembrong bisa mencapai 32-45 kg/ekor. Pemeliharaan dilakukan semi-intensif dengan melepasnya di pekarangan dan malam hari tidur di kandang.

4. Kambing Anglo Nubian

Kambing anglo nubian berasal dari daerah Nubia di Timur Laut Afrika. Ciri-ciri kambing ini yaitu bobot tubuh cukup besar, telinga menggantung, dan ambing besar. Bulunya berwarna hitam, merah, cokelat, putih, atau kombinasi warna-warna tersebut. Bobot badan kambing jantan mencapai 90 kg dan kambing betina 70 kg. Produksi susu 700 kg per periode laktasi.

5. Kambing Boer

Kambing boer berasal dari Afrika Selatan dan telah masuk ke Indonesia sejak 65 tahun lalu. Kambing boer adalah kambing pedaging terbaik di dunia. Pada umur 5-6 bulan, berat badan kambing ini sudah mencapai 35-45 kg dan sudah siap untuk dipasarkan. Namun, jika dibiarkan sampai usia dewasa (2-3 tahun), bobot badan kambing jantan bisa mencapai 120 kg.

Kambing boer bertubuh panjang dan lebar, keempat kaki sangat pendek, warna kulit cokelat, berbulu putih, berkaki pendek, berhidung cembung, bertelinga panjang menggantung, serta kepala berwarna cokelat kemerahan atau cokelat muda hingga cokelat tua. Beberapa kambing boer memiliki garis putih ke bawah di wajahnya. Kambing ini mudah beradaptasi dengan lingkungan baru, dan memiliki daya tahan tubuh yang sangat bagus.

Kambing boer yang ada di Indonesia sudah banyak mengalami persilangan dengan kambing lokal Indonesia. Istilah “kambing boer bangsa murni” akan digunakan oleh registrasi kambing boer Indonesia jika seekor kambing sudah mencapai paling tidak generasi kelima baik dari sisi induk maupun pejantan, berdasarkan catatan silsilahnya. Salah satu contoh hasil persilangan kambing boer adalah boerka yang merupakan hasil persilangan dengan kambing kacang.

Sumber: Buku Petunjuk Praktis Menggemukkan Domba, Kambing, dan Sapi Potong

Author:
• Saturday, February 06th, 2010

Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta adalah pasar yang besar untuk produk daging. Konsumsi daging setiap tahunnya meningkat sebesar 4,2% per kapita. Kebutuhan ini semakin tinggi dengan adanya permintaan daging kurban pada hari Raya Idul Adha. Peningkatan konsumsi daging tersebut belum dapat diimbangi oleh peningkatan produksi. Apalagi, konstribusi daging ruminansia kecil pada konsumsi daging nasional hanya sebesar 6%.

Ternak hewan ruminansia berukuran kecil seperti kambing memiliki potensi cukup besar untuk dikembangkan sebagai sumber pedaging. Beberapa keuntungan beternak kambing, di antaranya hewan ini mudah beradaptasi dengan lingkunagn, dapat dipelihara di daerah kering (marjinal), kebutuhan modal lebih rendah dibandingkan hewan ternak ruminansia besar seperti sapi dan kerbau.

potensi ternak kambing

Untuk memenuhi kebutuhan daging kambing pada masa yang akan datang, salah satu alternatif yang dapat dilakukan adalah dengan mengembangkan ternak kambing secara konsepsional. Ada beberapa permasalahan yang dihadapi peternak, yaitu kurang lengkapnya informasi pasar akan sumber bibit yang bagus, cara beternak kambing yang benar, serta belum dimanfaatkannya potensi kambing, potensi pasar, dan potensi sumber daya manusia secara optimal.

Sumber: Buku Petunjuk Praktis Menggemukkan Domba, Kambing, dan Sapi Potong