Archive for the Category ◊ FAQ ◊

Author:
• Wednesday, January 27th, 2021

hukum seputar kulit dan jeroan hewan aqiqahAl-Khalal berkata, Abdul Malik Al-Maimuni telah menceritakan kepada kami bahwa Abu Abdillah ditanya seseorang tentan akikah. Apakah kulit, kepala serta jeroan hewan akikah boleh dijual atau harus dibagikan? Ia menjawab, “Disedekahkan”.

Abdullah bin Ahmad mengatakan, ayahku menceritakan kepadaku bahwa Yazid telah bercerita dari Hisyam dari Al-Hasan ia berkata, “Dimakruhkan memberikan kulit akikah dan udhiyah kepada orang yang bekerja dan membersihkannya”. Maknanya adalah makruh memberikan kulit sebagai upah untuk penyembelih maupun tukang masak.

Juga telah disebutkan pendapat Imam Ahmad seperti dalam riwayat Hanbal, “Buatlah akikah itu sesukamu.” Juga perkataannya dalam riwayat Abdullah, “Bagikan sesukamu.”

Abu Abdillah bin Hamdan mengatakan dalam Ri ayat-nya bahwa diperbolehkan menjual kulit, jeroan dan kepala hewan akikah, kemudian mensedekahkan hasil penjualannya. Kemudian ia menyebut beberapa nash.

Dikatakan haram menjualnya dan tidak sah. Dikatakan juga bahwa hukum udhiyah berlaku untuk akikah, begitu juga sebaliknya. Sehingga pada keduanya terdapat dua riwayat yang menyebutkan hukum yang serupa dan hukum yang berbeda. Namun yang menyebutkan hukum berbeda, lebih masyhur dan lebih jelas.

Menurut penulis, nash yang disebutkan adalah nash yang juga kami sebutkan dalam Masail Al-Maimuni yang dapat dipahami selaras dengan pendapat diatas tapi bisa dipahami juga sebaliknya. Yaitu disedekahkan tanpa diperjual belikan, maka renungkanlah. Kecuali terdapat nash lain yang jelas memperbolehkan diperjual belikan.

Dalam riwayat Ja’far bin Muhammad ia ditanya tentang kulit sapi udhiyah. Ia menjawab, “Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa ia berkata, ‘Boleh dijual dan disedekahkan. Berbeda dengan kulit kambing yang hendaknya dijadikan alas saja, karena tak ada manfaatnya di rumah.’ Kemudian ia berkata, ‘Kulit sapi mencapai sekian-sekian.’

Al-Khalal berkata, Abdul Malik bin Abdil Hamid mengatakan bahwa Abu Abdillah berkata, “Sesungguhnya Ibnu Umar menjual kulit sapi dan bersedekah dengan uang hasil penjualannya.” Ia berkata, “Ini tidak dijual karena kulit unta dan sapi dimanfaatkan oleh siapapun dan hanya dijadikan tempat duduk di rumah. Juga tidak bisa dimanfaatkan untuk sesuatupun, hanya saja dia dijual kemudian disedekahkan hasilnya. Adapun kulit kambing bisa dibuat menjadi dharub.

Al-Atsram berkata bahwa ia mendengar Abu Abdillah menyebutkan perkataan Ibnu Umar bahwa ia berkata tentang kulit sapi, “Dijual dan hasilnya disedekahkan.” Karena menurutnya harganya cukup mahal.

Abu Al-Harits berkata bahwa Abu Abdillah ditanya kepada Abu Abdillah tentang apa yang bisa diperbuat terhadap kulit udhiyah. Ia menjawab, “Dimanfaatkan dan disedekahkan hasilnya.” Ishaq bertanya, “Dijual dan disedekahkan hasilnya?” Ia menjawab, “Ya,” kemudian menyebutkan hadits Ibnu Umar.

Al-Marwazi berkata bahwa madzhab Abu Abdillah adalah kulit udhiyah itu tidak dijual tapi hendaknya kulit itu disedekahkan. Ia berhujjah dengan hadits Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan untuk menyedekahkan kulit udhiyah dan gajihnya.

Ia mengatakan bahwa dalam riwayat Hanbal disebutkan tidak mengapa menjadikan kulit udhiyah sebagai tempat duduk. Apa tidak dijual kemudian hasilnya disedekahkan? Ia menjawab, “Tidak, tetapi manfaatkan kulit udhiyah.” Ditanyakan padanya apakah dipakai sendiri dan dimanfaatkan? Ia menjawab, “Ya, selama kurban wajib atau nadzar, akan tetapi jika yang semisal denganya maka kulit itu dijual dan disedekahkan. Adapun bila tathawwu’ maka dimanfaatkan di rumah sesukanya.”

Ia berkata, “Dikatakan dalam riwayat Ja’far bin Muhammad, ‘Kulit udhiyah disedekahkan dan dimanfaatkan di rumah serta tidak dijual.”

Dalam riwayat Abu Al-Harits, “Disedekahkan dan dijadikan hiasan atau alas di rumah.” Dalam riwayat Ibnu Manshur, “Kulitnya disedekahkan dan dimanfaatkan serta tidak dijual.”

Sedangkan riwayat Al-Maimuni, “Tidak boleh dijual, akan tetapi disedekahkan.” Mereka bertanya, “Bagaimana jika dijual dan hasilnya disedekahkan?” Ia menjawab, “Tidak, bahkan ia sedekahkan apa adanya dalam wujud kulit.”

Ahmad bin Al-Qasim berkata bahwa Abu Abdillah berkata tentang kulit udhiyah, “Dianjurkan agar harganya senilai alat penyaring atau perkakas yang dipakai di rumah dan tidak diberikan sebagai upaj bagi tukang sembelih.”

Abu Thalib berkata bahwa ia bertanya kepada Abu Abdillah tentang kulit udhiyah. Ia menjawab, “Asy-Sya’bi dan Ibrahim berpendapat tidak dijual, tetapi ditukar dengan alat pengayak atau saringan.” Ia berkata, “Mereka dijual serta dibeli dengan hasilnya.” Aku tanyakan, “Ditukar?” Ia menjawab, “Ya.” Aku bertanya, “Apa ini mengagetkanmu?” Ia berkata, sesungguhnya binatang sembelihan tersebut diperuntukan untuk Allah bukan untuk dijual. Sebab Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan Ali untuk mensedekahkan gajih dan kulitnya. Ia bertanya lagi, bagaimana jika kulitnya disedekahkan kepada tukang jagal? Beliau menjawab, ‘tidak.’ Lantas bagaimana jika aku jual dan hasil penjualannya aku sedekahkan? Beliau berkata, “Tidak, Ibnu Umar memberikan kulit kepada mereka, kemudian mereka menjualnya sendiri.” Aku bertanya, “Bagaimana jika aku jual seharga tiga dirham lalu aku sedekahkan kepada tiga orang miskin?” Ia menjawab, “Kumpulkan saja lalu serahkan untuk mereka.”

Ia berkata bahwa Masruq dan Alqamah menjadikan kulit udhiyah sebagai alas atau perkakas di rumah. Ini lebih ringan yaitu menjadikannya perkakas di rumah.

Harb bin Ismail bin Khalaf Al-Kirmani yang merupakan murid dari Imam Ahmad bertanya kepada Imam Ahmad tentang seseorang yang menjual kulit udhiyah kemudian bersedekah dengan hasilnya dan seseorang yang menyimpan kulit udhiyah. Ia menjawab, “Tidak mengapa menjual kulit udhiyah.”

Al-Khalal menulis dalam Bab Anjuran Untuk Menjual Kulit Sapi dan Bersedekah Dengan Hasilnya.

Manshur bin Al-Walid mengabarkan kepada kami bahwa Ja’far bin Muhammad menceritakan kepada mereka bahwa Abu Abdillah ditanya tentang kulit sapi. Ia menjawab, “Sungguh telah ada riwayat dari Ibnu Umar bahwa ia berkata, “Dijual dan hasilnya disedekahkan, berbeda dengan kulit kambing jadikanlah ia alas, karena ini tidak bisa dimanfaatkan di rumah.” Ia berkata, “Sesungguhnya kulit sapi itu mencapai sekian-sekian.”

Muhanna berkata bahwa Ahmad ditanya tentang seseorang yang membeli sapi untuk berudhiyah. Kemudian ia menjual kulitnya seharga dua puluh dirham dan dua puluh dirham lebih. Lantas, uang hasil jual kulit tadi ia belikan binatang udhiyah, bagaimana menurut Imam Ahmad? Ia menjawab, “Telah diriwayatkan dari Ibnu Umar yang semisal dengan ini.”

Ishaq bin Manshur berkata bahwa ia bertanya kepada Abu Abdillah apa yang bisa diperbuat pada kulit udhiyah? Ia menjawab, “Dimanfaatkan dan disedekahkan berupa kulit, juga dijual dan hasilnya disedekahkan.” Aku tanyakan, “Dijual dan hasilnya disedekahkan?” Ia menjawab, “Iya,” kemudian ia menyebutkan hadits Ibnu Umar.

Inilah nash-nash tentang kulit akikah dan udhiyah, juga dalam kondisi wajib maupun mustahab seperti yang termaktub di atas. Wallahu a’lam

Sumber: buku ISLAMIC PARENTING: hadiah cinta untuk si buah hati

Author:
• Wednesday, January 27th, 2021

hikmah pemberian daging aqiqah yang sudah dimasak Terkait judul diatas. Pertama, menampakkan keutamaan makanan akikah. Makanan tersebut dihidangkan untuk dimakan para tetangga dan orang-orang miskin. Dianjurkan untuk dipotong dengan pemotongan yang baik, sempurna sesuai bagian anggota tubuhnya, serta jangan meremukkan tulangnya dan tidak boleh mengurangi anggota tubuhnya. Tidak diragukan lagi, bahwa perlakuan seperti ini termasuk pilihan yang paling mulia dan dikategorikan dalam bab kesungguhan dalam pemotongan daging.

Kedua, sebuah hadiah yang diberikan dalam bentuk yang paling mulia dan tidak menunjukkan ejekan, termasuk bentuk penghormatan kepada orang yang menerimanya. Sekaligus, termasuk bentuk penghormatan kepada orang yang menerimanya. Sekaligus menunjukkan kehormatan dan perhatian yang besar dari orang yang memberi. Dengan harapan agar di bayi kelak memiliki jiwa yang besar, motivasi yang kuat dan memiliki jiwa yang terhormat.

Ketiga, ketika kedudukan akikah adalah sebagai penebus, maka dianjurkan untuk tidak meremukkan tulangnya sebagai harapan agar anggota badan si bayi juga sehat dan tetap kuat. Yang mana harapan itu hilang bila tulang binatang yang menjadi penebus itu remuk. Juga bila tulangnya remuk, bagi sebagian orang yang tidak menyukainya, seakan sesuai dengan nama yang dibenci yaitu Al-Uquq (durhaka). Ketidaksukaan terhadap tulang yang remuk seakan setara dengan ketidak sukaan terhadap penamaannya, yaitu akikah. Wallahu a’lam.

Sumber: buku ISLAMIC PARENTING: hadiah cinta untuk si buah hati

Author:
• Wednesday, January 20th, 2021

hukum mengaqiqahi dirinya sendiri ketika baligAl-Khalal menuliskan sebuah Bab “Anjurkan Bagi Orang Yang Belum Diakikahi Ketika Lahir, Apakah Mengakikahi Dirinya Sendiri Ketika Dewasa.” Kemudian ia menyebutkan dari buku Masail Ismail bin Sa’id Asy-Syalanji. Ia bertanya kepada Imam Ahmad tentang seseorang yang diberitahu orang tuanya bahwa mereka belum mengakikahinya. Bolehkan ia mengakikahi dirinya sendiri? Ia menjawab, “Akikah itu kewajiban orang tua.”

Dalam Masail Al-Maimuni, ia bertanya kepada Abu Abdillah, bila seseorang belum diakikahi saat kecil, apakah ia mengakikahi dirinya sendiri ketika dewasa? Kemudian ia menyebutkan hadits ya ia dhaifkan tentang seseorang yang mengakikahi dirinya sendiri ketika dewasa. Menurutku, sepertinya Imam Ahmad menganjurkan seseorang untuk mengakikahi dirinya sendiri ketika dewasa bila waktu ia kecil belum diakikahi oleh orang tuanya. Ia berkata, “Jika seseorang melakukannya aku tidak memakruhkannya.”

Abdul Malik mengabarkan kepadaku di tempat lain bahwa ia bertanya kepada Abu Abdillah, apakah seseorang tetap diakikahi ketika dewasa? Ia menjawab, “Aku belum mendapati dasar yang menganjurkan hal tersebut.” Ditanyakan lagi bagaimana bila ketika kecil orang tuanya kesusahan dan ketika anaknya dewasa kondisinya sudah lebih baik dan ingin mengakikahi anaknya? Ia menjawab, “Aku tidak tahu, belum pernah kudapati dasar yang menganjurkan mengakikahi anak yang sudah dewasa. Tapi jika ada yang melakukannya itu baik dan sebagian ulama ada yang mewajibkannya.”

Al-Khalal berkata, Abu Al-Mutsana Al-Anbari mengabarkan kepada kamu bahwa Abu Dawud menceritakan kepada mereka jika ia mendengar Ahmad menceritakan hadits Al-Haitsam bin Jamil dari Abdillah bin Al-Mutsanna dari Tsumamah dari Anas bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam mengakikahi dirinya sendiri.

Imam Ahmad berkata bahwa riwayat Abdullah bin Al-Muharrar dari Qatadah dari Anas bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam mengakikahi dirinya sendiri merupakan hadits munkar. Dan Imam Ahmad men-dhaifkan Abdullah bin Muharrar.

Al-Khalal berkata Muhammad bin ‘Auf Al-Himshi menceritakan kepada kami bahwa Al-Haitsam bin Jamil telah menceritakan dari Abdullah bin Al-Mutsanna dari seseorang anggota keluarga Anas bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam mengakikahi dirinya sendiri setelah diangkat menjadi nabi.

Dalam kitab Mushannaf Abdul Razaq disebutkan, Abdullah bin Muharrar telah menceritakan dari Qatadah dari Anas bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam mengakikahi dirinya sendiri setelah diangkat menjadi nabi. Abdul Razak berkata bahwa para ahli hadits meninggalkan Ibnu Muharrar dengan sebab hadits ini.

Sumber: buku Islamic Parenting: hadiah cinta untuk si buah hati

Author:
• Monday, January 18th, 2021

hukum patungan dalam aqiqahPembahasan inilah yang membedakan antara akikah dengan hadyu dan udhiyah. Al-Khalal dalam Al-Jami menulis Bab Hukum Menyembelih Unta Untuk Tujuh Orang.

Abdul Malik bin Abdil Hamid menceritakan kepada kami bahwa ia bertanya kepada Abu Abdillah, apakah boleh berakikah dengan unta? Ia menjawab. “Bukankah sudah pernah akikah dilaksanakan dengan menyembelih unta?”. Aku bertanya, “Bagaimana bila satu unta untuk tujuh orang?”Ia menjawab, “Aku belum pernah mendengar pendapat seperti itu dan menurutku tidak diperbolehkan melakukan akikah dengan satu ekor unta untuk tujuh orang.”

Ketika sembelihan itu ditunjukan untuk menebus bayi yang baru lahir, maka yang disyariatkan adalah darah dari satu binatang yang sempurna, agar satu binatang menjadi penebus untuk satu jiwa.

Sekiranya dibenarkan berserikat dalam binatang akikah, maka tujuan penyembelihan untuk anak tidak tercapai. Karena sembelihan hanya dibebankan untuk satu orang, sementara anggota keluarga yang lain cukup membantu mengolah dagingnya saja. Sehingga yang diperhitungkan adalah sembelihan akikah untuk satu anak saja. Makna ini adalah makna yang dipahami oleh kelompok yang melarang berserikat dalam sembelihan dan udhiyah.

Akan tetapi, sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam itu lebih berhak dan lebih layak untuk diikuti. Dan beliau Shallallahu’alaihi Wasallam membolehkan orang-orang berkongsi pada binatang sembelihan hadyu. Sementara dalam akikah beliau Shallallahu’alaihi Wasallam mensyariatkan dengan dua ekor kambing yang sempurna untuk anak laki-laki. Sehingga tidak bisa digantikan dengan unta maupun sapi. Wallahu a’lam

Sumber: buku Islamic Parenting: hadiah cinta untuk sang buah hati

Author:
• Sunday, January 17th, 2021

anjuran memasak daging hewan aqiqahAl-Khalal berkata dalam Al-Jami’ pada Bab Anjuran Dalam Penyembelihan Aqiqah. Abduil Malik Al-Maimuni bertanya kepada Abu Abdillah, “Apakah daging akikah itu dimasak?” Ia menjawab, “Ya. Muhammad bin Ali berkata, Al-Atsram telah menceritakan kepada kami bahwa Abu Abdillah berkata tentan akikah, “Dimasak dalam potongan-potongan (tidak dihancurkan)”.

Abu Dawud telah menceritakan kepada kami bahwa Abu Abdillah ditanya, “Apakah daging akikah itu dimasak?” Ia menjawab, “Ya.” Ditanyakan kepadanya, “Bagaimana jika hal tersebut memberatkan?” Ia menjawab, “Mereka yang menerima akan terbebani untuk memasak.”

Muhammad bin Al-Husain mengabarkan kepada kami bahwa Al-Fadhl bin Ziyad menceritakan bahwa Abu Abdillah ditanya tentang akikah, “Apakah daging akikah dimasak dengan air dan garam? Ia menjawab, Itu sangat dianjurkan. Lantas bagaimana jika dimasak dengan bumbu lain? Ia menjawab, Tidak mengapa.”

Karena dengan dimasaknya daging akikah cukup membantu meringankan orang-orang miskin dan para tetangga. Semakin menambah nilai atas syukur terhadap nikmat, sehingga para tetangga, anak-anak dan orang-orang miskin dapat bersuka cita dan berterima kasih dengannya. Sebab siapa saja yang menerima kiriman daging yang telah dimasak, siap santap lagi baik dagingnya, menambah kebahagiaan dan kegembiraan keluarga penerima dibandingkan mereka harus memasak dan menguras tenaga. Oleh karena itu Imam Ahmad berkata, “Mereka yang menerima akan terbebani untuk memasak.”

Membagikan makanan yang sudah dimasak itu lebih baik dari sekedar membagi daging yang masih mentah. Yang demikian ini termasuk dari akhlak yang mulia dan kedermawanan. Wallahu a’lam.

Sumber: buku Islamic Parenting: hadiah cinta untuk si buah hati

Author:
• Thursday, January 14th, 2021

bacaan saat menyembelih hewan aqiqahIbnu Al-Mundzir berkata hukum menyebutkan nama orang yang berakikah. Abdullah bin Muhammad telah meceritakan kepada kami dari bapaknya bahwa Hisyam bin Ibnu Juraij dari Yahya bin Sa’id dari ‘Amrh dari Aisyah berkata, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Sembelihlah dengan menyebut nama-Nya, maka ucapkanlah, Bismillah allahumma laka wa ilaika hadzihi ‘aqiqatu fula (Dengan menyebut nama Allah. Yaa Allah ini dari-Mu dan hanya kepada-Mu, ini adalah akikahnya fulan).”

Ibnu Al-Mundzir berkata bahwa hadits itu hasan. Jika orang yang berakikah telah berniat meski tidak diucapkan, hal itu sudah cukup insyaAllah.

Al-Khalal berkata dalam Bab Apa Yang Dibaca Saat Menyembelih Binatang Akikah. Ahmad bin Muhammad bin Mathar telah menceritakan kepada kami, juga Zakariya bin Yahya bahwa Abu Thalib menceritakan kepada mereka bahwa ia bertanya kepada Abu Abdillah jika seseorang ingin berakikah, apa yang harus diucapkan? Ia menjawab, “Ucapkan bismillah, kemudian ia bisa menyembelih dengan niat sebagaimana seseorang berudhiyah dengan niat udhiyah. Ia bisa ucapkan: “Ini adalah akikahnya fulan bin fulan.”

Secara dzahir keterangan ini menunjukakan bahwa ia menganggap niat dan lafaz bersamaan. Seperti halnya seseorang yang bertalbiyah dan berihram untuk selainnya dengan niat dan lafaz, sehingga ia berkata Yaa Allah kami menyambut seruanmu atas si fulan. Atau “Ihrami ‘an fulan (Aku berihram untuk fulan).”

Dari sini dapat diambil faidah bahwa jika seseorang ingin menghadiahkan pahala amal untuk seseorang, maka ia bisa meniatkannya untuk seseorang dan mengatakan Yaa Allah ini dari fulan atau Yaa Allah jadikan pahalanya untuk si fulan).”

Sebagian lagi mengatakan bahwa hendaknya disertakan syarat sehingga ia berkata, “Allahumma in kunta qabilta minni hadzal ‘amal faj’al Tswabahu li fulan (Yaa Allah, jika Engkau menerima amal dariku ini, maka jadikan pahalanya untuk si fulan). Sebab, seseorang tidak pernah tahu apakah amal darinya diterima atau tidak?

Akan tetapi, ucapan seperti ini tidak perlu, sebab perkara ini telah terbantah dengan adanya hadits. Karena Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam tidak mengatakan kepada orang yang bertalbiyah atas Syubrumah agar mengucapkan Allahumma in kunta qabilta ihrami faj’alhu ‘an syubrumah (Yaa Allah jika Engkau terima ihram dariku maka jadikan pahalanya untuk Syubrumah). Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam juga tidak mengatakan kepada siapapun yang bertanya kepadanya tentang seseorang yang ingin berhaji untuk kerabatnya. Bahkan tidak disebutkan dalam satupun hadits dan petunjuk dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam tentang hal tersebut yang lebih layak untuk diikuti.

Serta tidak ada nukila dari salah seorang salaf pun yang memberikan syarat sebagaimana disebutkan di atas dalam hadyu, udhiyah, akikah dan selainnya. Bahkan yang dinukil dari mereka adalah Allahumma Hadza ‘an fulan bin fulan (Yaa Allah ini adalah dari fulan bin fulan), hal yang demikian ini sudah cukup. Sungguh amal yang Allah terima itu sampai kepada-Nya, baik orang yang menghadiahkan pahala amal tadi menyertakan lafaz syarat ataupun tidak. Wallahu a’alam.

Sumber: Buku Islamic Parenting: hadiah cinta untuk si buah hati

Author:
• Monday, December 09th, 2019

Tahun 2019 memang belum berakhir, dari saat kami melakukan postingan ini masih ada sekitar 21 hari lagi menuju pergantian tahun ke 2020. Dan jika nanti sudah memasuki tahun baru, setidaknya kami sudah antisipasi lebih awal buat anda yang nanti ingin mencari tahun informasi paketan akikah di sekitaran daerah Jakarta Utara.

Harga paketan akikah yang nanti berlaku kami pastikan sama dengan yang tertulis pada halaman Tentang Kami di website ini. Atau jika anda bingung untuk menemukan halaman yang kami maksud, bisa kok langsung menghubungi layanan konsumen kami melalui nomor telp berikut: 0812-2468-6668 (bisa untuk WA). Jika tidak aktif bisa menghubungi nomor lainnya: 0818-064-50-434.

Oia, jika anda ingin melihat testimoni yang sudah pernah menggunakan jasa kami bisa langsung lihat di akun Instagram: layananaqiqahsejabodetabek. Ingat, akikah itu cuman sekali seumur hidup. Jangan sembarangan memilih penyedia jasa akikah, pilih saja kami yang sudah berpengalaman lebih dari sepuluh tahun.

Author:
• Wednesday, March 27th, 2019

Anda sedang mencari-cari info tentang layanan akikah disekitaran Jakarta Utara yang berpengalaman? Jika iya, pake saja jasa kami yang sudah berpengalaman lebih dari 10 tahun untuk urusan aqiqah. Sudah banyak pemesanan yang puas dengan masakan dan pelayanan yang kami berikan. Anda bisa melihat testimoni yang diberikan melalui akun IG: layananaqiqahsejabodetabek.

Berikut beberapa bonus yang kami berikan secara gratis jika anda pesan paketan akikah ditempat kami. Ada bonus dokumentasi saat pemotongan hewan, bonus sertifikat, bonus risalah akikah, bonus acar, bonus suvenir 1 pcs, bonus layanan antar gratis sejabodetabek jika pesan sekalian dimasak dan bonus jasa bungkusin masakan.

Mau lanjut komunikasi melalui WA? Bisa ke nomor: 0818-064-50-434 (ridwan). Anda bisa tanya apa saja ke nomor tersebut, mau langsung pesan juga bisa melalui WA. InsyaAllah ngga ribet, kami buat mudah niatan anda untuk melaksanakan akikah.

Author:
• Saturday, January 12th, 2019

Jika anda ada niatan untuk melaksanakan akikah dalam waktu dekat, anda bisa dulu lihat daftar harga paketan akikah ditempat kami yang sudah tertulis di halaman Tentang Kami pada website ini. Selain harga hewan akikah, juga ada biaya jasa masak per ekor, banyaknya porsi masakan yang diperoleh dan harga paket nasi kotak pada halaman web tersebut.

Untuk pemesanan bisa melalui WA ke nomor: 0818-064-50-434 (ridwan). Layanan antar gratis dan bisa bayar setelah pesanan sudah sampe dirumah anda.

Untuk testimoni yang sudah pernah pake jasa kami bisa anda lihat di akun IG: layananaqiqahsejabodetabek.

Author:
• Saturday, March 24th, 2018

Terkait dengan pertanyaan yang kami jadikan judul pada postingan kali ini adalah, cara yang pertama pemesan bisa memilih untuk membayarnya setelah pesanan disalurkan. Dengan catatan, pemesan harus ikutan hadir saat paket akikah disalurkan ditempat yang sudah disepakati.

Cara yang kedua, pemesan harus bayar penuh sebelum hewan untuk paket akikah dipotong. Dikarenakan pemesan ngga bisa ikut hadir atau sepenuhnya menyerahkan kepada kami untuk pelaksanaan penyaluran sumbangan.

Jadi, anda sebagai pemesan bebas ya mau pilih cara yang mana. Jika penjelasan kami di postingan ini masih kurang jelas, bisa lanjut WA an ke 0818-064-50-434 (ridwan).

Untuk melihat testimoni bisa kunjungi akun IG kami di: layananaqiqahsejabodetabek.