Archive for the Category ◊ FAQ ◊

Author:
• Wednesday, January 20th, 2021

hukum mengaqiqahi dirinya sendiri ketika baligAl-Khalal menuliskan sebuah Bab “Anjurkan Bagi Orang Yang Belum Diakikahi Ketika Lahir, Apakah Mengakikahi Dirinya Sendiri Ketika Dewasa.” Kemudian ia menyebutkan dari buku Masail Ismail bin Sa’id Asy-Syalanji. Ia bertanya kepada Imam Ahmad tentang seseorang yang diberitahu orang tuanya bahwa mereka belum mengakikahinya. Bolehkan ia mengakikahi dirinya sendiri? Ia menjawab, “Akikah itu kewajiban orang tua.”

Dalam Masail Al-Maimuni, ia bertanya kepada Abu Abdillah, bila seseorang belum diakikahi saat kecil, apakah ia mengakikahi dirinya sendiri ketika dewasa? Kemudian ia menyebutkan hadits ya ia dhaifkan tentang seseorang yang mengakikahi dirinya sendiri ketika dewasa. Menurutku, sepertinya Imam Ahmad menganjurkan seseorang untuk mengakikahi dirinya sendiri ketika dewasa bila waktu ia kecil belum diakikahi oleh orang tuanya. Ia berkata, “Jika seseorang melakukannya aku tidak memakruhkannya.”

Abdul Malik mengabarkan kepadaku di tempat lain bahwa ia bertanya kepada Abu Abdillah, apakah seseorang tetap diakikahi ketika dewasa? Ia menjawab, “Aku belum mendapati dasar yang menganjurkan hal tersebut.” Ditanyakan lagi bagaimana bila ketika kecil orang tuanya kesusahan dan ketika anaknya dewasa kondisinya sudah lebih baik dan ingin mengakikahi anaknya? Ia menjawab, “Aku tidak tahu, belum pernah kudapati dasar yang menganjurkan mengakikahi anak yang sudah dewasa. Tapi jika ada yang melakukannya itu baik dan sebagian ulama ada yang mewajibkannya.”

Al-Khalal berkata, Abu Al-Mutsana Al-Anbari mengabarkan kepada kamu bahwa Abu Dawud menceritakan kepada mereka jika ia mendengar Ahmad menceritakan hadits Al-Haitsam bin Jamil dari Abdillah bin Al-Mutsanna dari Tsumamah dari Anas bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam mengakikahi dirinya sendiri.

Imam Ahmad berkata bahwa riwayat Abdullah bin Al-Muharrar dari Qatadah dari Anas bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam mengakikahi dirinya sendiri merupakan hadits munkar. Dan Imam Ahmad men-dhaifkan Abdullah bin Muharrar.

Al-Khalal berkata Muhammad bin ‘Auf Al-Himshi menceritakan kepada kami bahwa Al-Haitsam bin Jamil telah menceritakan dari Abdullah bin Al-Mutsanna dari seseorang anggota keluarga Anas bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam mengakikahi dirinya sendiri setelah diangkat menjadi nabi.

Dalam kitab Mushannaf Abdul Razaq disebutkan, Abdullah bin Muharrar telah menceritakan dari Qatadah dari Anas bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam mengakikahi dirinya sendiri setelah diangkat menjadi nabi. Abdul Razak berkata bahwa para ahli hadits meninggalkan Ibnu Muharrar dengan sebab hadits ini.

Sumber: buku Islamic Parenting: hadiah cinta untuk si buah hati

Author:
• Monday, January 18th, 2021

hukum patungan dalam aqiqahPembahasan inilah yang membedakan antara akikah dengan hadyu dan udhiyah. Al-Khalal dalam Al-Jami menulis Bab Hukum Menyembelih Unta Untuk Tujuh Orang.

Abdul Malik bin Abdil Hamid menceritakan kepada kami bahwa ia bertanya kepada Abu Abdillah, apakah boleh berakikah dengan unta? Ia menjawab. “Bukankah sudah pernah akikah dilaksanakan dengan menyembelih unta?”. Aku bertanya, “Bagaimana bila satu unta untuk tujuh orang?”Ia menjawab, “Aku belum pernah mendengar pendapat seperti itu dan menurutku tidak diperbolehkan melakukan akikah dengan satu ekor unta untuk tujuh orang.”

Ketika sembelihan itu ditunjukan untuk menebus bayi yang baru lahir, maka yang disyariatkan adalah darah dari satu binatang yang sempurna, agar satu binatang menjadi penebus untuk satu jiwa.

Sekiranya dibenarkan berserikat dalam binatang akikah, maka tujuan penyembelihan untuk anak tidak tercapai. Karena sembelihan hanya dibebankan untuk satu orang, sementara anggota keluarga yang lain cukup membantu mengolah dagingnya saja. Sehingga yang diperhitungkan adalah sembelihan akikah untuk satu anak saja. Makna ini adalah makna yang dipahami oleh kelompok yang melarang berserikat dalam sembelihan dan udhiyah.

Akan tetapi, sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam itu lebih berhak dan lebih layak untuk diikuti. Dan beliau Shallallahu’alaihi Wasallam membolehkan orang-orang berkongsi pada binatang sembelihan hadyu. Sementara dalam akikah beliau Shallallahu’alaihi Wasallam mensyariatkan dengan dua ekor kambing yang sempurna untuk anak laki-laki. Sehingga tidak bisa digantikan dengan unta maupun sapi. Wallahu a’lam

Sumber: buku Islamic Parenting: hadiah cinta untuk sang buah hati

Author:
• Sunday, January 17th, 2021

anjuran memasak daging hewan aqiqahAl-Khalal berkata dalam Al-Jami’ pada Bab Anjuran Dalam Penyembelihan Aqiqah. Abduil Malik Al-Maimuni bertanya kepada Abu Abdillah, “Apakah daging akikah itu dimasak?” Ia menjawab, “Ya. Muhammad bin Ali berkata, Al-Atsram telah menceritakan kepada kami bahwa Abu Abdillah berkata tentan akikah, “Dimasak dalam potongan-potongan (tidak dihancurkan)”.

Abu Dawud telah menceritakan kepada kami bahwa Abu Abdillah ditanya, “Apakah daging akikah itu dimasak?” Ia menjawab, “Ya.” Ditanyakan kepadanya, “Bagaimana jika hal tersebut memberatkan?” Ia menjawab, “Mereka yang menerima akan terbebani untuk memasak.”

Muhammad bin Al-Husain mengabarkan kepada kami bahwa Al-Fadhl bin Ziyad menceritakan bahwa Abu Abdillah ditanya tentang akikah, “Apakah daging akikah dimasak dengan air dan garam? Ia menjawab, Itu sangat dianjurkan. Lantas bagaimana jika dimasak dengan bumbu lain? Ia menjawab, Tidak mengapa.”

Karena dengan dimasaknya daging akikah cukup membantu meringankan orang-orang miskin dan para tetangga. Semakin menambah nilai atas syukur terhadap nikmat, sehingga para tetangga, anak-anak dan orang-orang miskin dapat bersuka cita dan berterima kasih dengannya. Sebab siapa saja yang menerima kiriman daging yang telah dimasak, siap santap lagi baik dagingnya, menambah kebahagiaan dan kegembiraan keluarga penerima dibandingkan mereka harus memasak dan menguras tenaga. Oleh karena itu Imam Ahmad berkata, “Mereka yang menerima akan terbebani untuk memasak.”

Membagikan makanan yang sudah dimasak itu lebih baik dari sekedar membagi daging yang masih mentah. Yang demikian ini termasuk dari akhlak yang mulia dan kedermawanan. Wallahu a’lam.

Sumber: buku Islamic Parenting: hadiah cinta untuk si buah hati

Author:
• Thursday, January 14th, 2021

bacaan saat menyembelih hewan aqiqahIbnu Al-Mundzir berkata hukum menyebutkan nama orang yang berakikah. Abdullah bin Muhammad telah meceritakan kepada kami dari bapaknya bahwa Hisyam bin Ibnu Juraij dari Yahya bin Sa’id dari ‘Amrh dari Aisyah berkata, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Sembelihlah dengan menyebut nama-Nya, maka ucapkanlah, Bismillah allahumma laka wa ilaika hadzihi ‘aqiqatu fula (Dengan menyebut nama Allah. Yaa Allah ini dari-Mu dan hanya kepada-Mu, ini adalah akikahnya fulan).”

Ibnu Al-Mundzir berkata bahwa hadits itu hasan. Jika orang yang berakikah telah berniat meski tidak diucapkan, hal itu sudah cukup insyaAllah.

Al-Khalal berkata dalam Bab Apa Yang Dibaca Saat Menyembelih Binatang Akikah. Ahmad bin Muhammad bin Mathar telah menceritakan kepada kami, juga Zakariya bin Yahya bahwa Abu Thalib menceritakan kepada mereka bahwa ia bertanya kepada Abu Abdillah jika seseorang ingin berakikah, apa yang harus diucapkan? Ia menjawab, “Ucapkan bismillah, kemudian ia bisa menyembelih dengan niat sebagaimana seseorang berudhiyah dengan niat udhiyah. Ia bisa ucapkan: “Ini adalah akikahnya fulan bin fulan.”

Secara dzahir keterangan ini menunjukakan bahwa ia menganggap niat dan lafaz bersamaan. Seperti halnya seseorang yang bertalbiyah dan berihram untuk selainnya dengan niat dan lafaz, sehingga ia berkata Yaa Allah kami menyambut seruanmu atas si fulan. Atau “Ihrami ‘an fulan (Aku berihram untuk fulan).”

Dari sini dapat diambil faidah bahwa jika seseorang ingin menghadiahkan pahala amal untuk seseorang, maka ia bisa meniatkannya untuk seseorang dan mengatakan Yaa Allah ini dari fulan atau Yaa Allah jadikan pahalanya untuk si fulan).”

Sebagian lagi mengatakan bahwa hendaknya disertakan syarat sehingga ia berkata, “Allahumma in kunta qabilta minni hadzal ‘amal faj’al Tswabahu li fulan (Yaa Allah, jika Engkau menerima amal dariku ini, maka jadikan pahalanya untuk si fulan). Sebab, seseorang tidak pernah tahu apakah amal darinya diterima atau tidak?

Akan tetapi, ucapan seperti ini tidak perlu, sebab perkara ini telah terbantah dengan adanya hadits. Karena Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam tidak mengatakan kepada orang yang bertalbiyah atas Syubrumah agar mengucapkan Allahumma in kunta qabilta ihrami faj’alhu ‘an syubrumah (Yaa Allah jika Engkau terima ihram dariku maka jadikan pahalanya untuk Syubrumah). Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam juga tidak mengatakan kepada siapapun yang bertanya kepadanya tentang seseorang yang ingin berhaji untuk kerabatnya. Bahkan tidak disebutkan dalam satupun hadits dan petunjuk dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam tentang hal tersebut yang lebih layak untuk diikuti.

Serta tidak ada nukila dari salah seorang salaf pun yang memberikan syarat sebagaimana disebutkan di atas dalam hadyu, udhiyah, akikah dan selainnya. Bahkan yang dinukil dari mereka adalah Allahumma Hadza ‘an fulan bin fulan (Yaa Allah ini adalah dari fulan bin fulan), hal yang demikian ini sudah cukup. Sungguh amal yang Allah terima itu sampai kepada-Nya, baik orang yang menghadiahkan pahala amal tadi menyertakan lafaz syarat ataupun tidak. Wallahu a’alam.

Sumber: Buku Islamic Parenting: hadiah cinta untuk si buah hati

Author:
• Monday, December 09th, 2019

Tahun 2019 memang belum berakhir, dari saat kami melakukan postingan ini masih ada sekitar 21 hari lagi menuju pergantian tahun ke 2020. Dan jika nanti sudah memasuki tahun baru, setidaknya kami sudah antisipasi lebih awal buat anda yang nanti ingin mencari tahun informasi paketan akikah di sekitaran daerah Jakarta Utara.

Harga paketan akikah yang nanti berlaku kami pastikan sama dengan yang tertulis pada halaman Tentang Kami di website ini. Atau jika anda bingung untuk menemukan halaman yang kami maksud, bisa kok langsung menghubungi layanan konsumen kami melalui nomor telp berikut: 0812-2468-6668 (bisa untuk WA). Jika tidak aktif bisa menghubungi nomor lainnya: 0818-064-50-434.

Oia, jika anda ingin melihat testimoni yang sudah pernah menggunakan jasa kami bisa langsung lihat di akun Instagram: layananaqiqahsejabodetabek. Ingat, akikah itu cuman sekali seumur hidup. Jangan sembarangan memilih penyedia jasa akikah, pilih saja kami yang sudah berpengalaman lebih dari sepuluh tahun.

Author:
• Wednesday, March 27th, 2019

Anda sedang mencari-cari info tentang layanan akikah disekitaran Jakarta Utara yang berpengalaman? Jika iya, pake saja jasa kami yang sudah berpengalaman lebih dari 10 tahun untuk urusan aqiqah. Sudah banyak pemesanan yang puas dengan masakan dan pelayanan yang kami berikan. Anda bisa melihat testimoni yang diberikan melalui akun IG: layananaqiqahsejabodetabek.

Berikut beberapa bonus yang kami berikan secara gratis jika anda pesan paketan akikah ditempat kami. Ada bonus dokumentasi saat pemotongan hewan, bonus sertifikat, bonus risalah akikah, bonus acar, bonus suvenir 1 pcs, bonus layanan antar gratis sejabodetabek jika pesan sekalian dimasak dan bonus jasa bungkusin masakan.

Mau lanjut komunikasi melalui WA? Bisa ke nomor: 0818-064-50-434 (ridwan). Anda bisa tanya apa saja ke nomor tersebut, mau langsung pesan juga bisa melalui WA. InsyaAllah ngga ribet, kami buat mudah niatan anda untuk melaksanakan akikah.

Author:
• Saturday, January 12th, 2019

Jika anda ada niatan untuk melaksanakan akikah dalam waktu dekat, anda bisa dulu lihat daftar harga paketan akikah ditempat kami yang sudah tertulis di halaman Tentang Kami pada website ini. Selain harga hewan akikah, juga ada biaya jasa masak per ekor, banyaknya porsi masakan yang diperoleh dan harga paket nasi kotak pada halaman web tersebut.

Untuk pemesanan bisa melalui WA ke nomor: 0818-064-50-434 (ridwan). Layanan antar gratis dan bisa bayar setelah pesanan sudah sampe dirumah anda.

Untuk testimoni yang sudah pernah pake jasa kami bisa anda lihat di akun IG: layananaqiqahsejabodetabek.

Author:
• Saturday, March 24th, 2018

Terkait dengan pertanyaan yang kami jadikan judul pada postingan kali ini adalah, cara yang pertama pemesan bisa memilih untuk membayarnya setelah pesanan disalurkan. Dengan catatan, pemesan harus ikutan hadir saat paket akikah disalurkan ditempat yang sudah disepakati.

Cara yang kedua, pemesan harus bayar penuh sebelum hewan untuk paket akikah dipotong. Dikarenakan pemesan ngga bisa ikut hadir atau sepenuhnya menyerahkan kepada kami untuk pelaksanaan penyaluran sumbangan.

Jadi, anda sebagai pemesan bebas ya mau pilih cara yang mana. Jika penjelasan kami di postingan ini masih kurang jelas, bisa lanjut WA an ke 0818-064-50-434 (ridwan).

Untuk melihat testimoni bisa kunjungi akun IG kami di: layananaqiqahsejabodetabek.

Author:
• Sunday, February 11th, 2018

Bolehkah pemesan memotong sendiri hewan akikah yang sudah dipesan? Jika anda pesan ditempat kami, maka jawabnya sangat boleh.

Untuk tambahan info, pemotongan hewan akikah selalu dilakukan di kandang supplier kami. Jadi jika anda mau memotong hewan akikah diperbolehkan selama mau datang langsung ke kandang supplier kami. Nah, kalo niatnya anda mau memotong hewannya di rumah, maka ini belum bisa dilakukan.

Untuk alamat kandang bisa ditanyakan ke nomor layanan konsumen kami: 0818-064-50-434 (ridwan).

Author:
• Saturday, February 10th, 2018

Terkait ini, Syaikh Muhammad bin Al-‘Utsaimin rahimahullah, ulama pakar fikih abad ini pernah diajukan pertanyaan seperti judul postingan diatas. Beliau rahimahullah, menjawab:

“Hendaknya daging akikah dimakan sebagiannya, sebagiannya lagi dihadiahkan dan disedekahkan. Adapun kadar pembagiannya tidak ada kadar tertentu. Yang dimakan, yang dihadiahkan dan yang disedekahkan dibagi sesuai kemudahan. Jika ia mau, ia bagikan pada kerabat dan sahabat-sahabatnya. Boleh jadi pembagiannya tersebut di negeri yang sama atau di luar daerahnya. Akan tetapi, mestinya ada jatah untuk orang miskin dari daging akikah tersebut. Tidak mengapa juga daging akikah tersebut dimasak (direbus) dan dibagi setelah matang atau dibagi dalam bentuk mentah. Seperti itu ada kelapangan” (Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb, 5: 228)

Dari fatwa diatas, bisa disimpulkan kalo daging akikah boleh dimakan sama yang punya hajat. Sebagiannya lagi disedekahkan.

Sumber: rumaysho.com