Archive for the Category ◊ Khazanah Islam ◊

Author:
• Friday, April 02nd, 2010

Pada prisipnya kondisi sering buang angin (kentut) sama dengan perihal orang yang menderita beser, yaitu masuk dalam kategori keadaan tidak normal, sehingga mendapat perlakuan khusus dalam hukum Islam.

Melihat dari judul diatas, jika masih dapat merasakan ketika buang angin. Setiap berapa menit sekali buang anginnya? Maka upayakan ketika menunaikan sholat sesuai dengan kebiasaan berapa lama anda dapat menahan kentut. Jika dapat menahan kentut sampai 3 menit, maka waktu selama itu sudah sangat cukup untuk menunaikan shalat.

Mengenai membaca Al Quran, selama anda mampu setiap kali buang angin berwudhu, maka lakukan. Tetapi kalau tidak, misalnya karena terlalu sering kentutnya, atau tempat wudhunya jauh sehingga sangat memberatkan, maka tidak mengapa. Karena masalah memegang dan membaca Al Quran bagi orang yang berhadats kecil masih ada perbedaan antara ulama fiqih. Demikian pula dengan i’tikaf, tidak diharuskan dalam keadaan suci dari hadats kecil. Anda tetap dapat berzikir dan melakukan aktifitas lain.

Namu apabila anda sudah tidak kuat lagi dapat merasakan ketika buang angin, sehingga anda tidak tahu ketika anda mengeluarkan angin. Maka cukup setiap kali hendak sholat atau membaca Al Quran anda berwudhu. Dan selama anda shalat (baik sendiri maupun jamaah) yakin saja bahwa anda tidak buang angin dan teruskan sholat hingga selesai, toh anda juga tidak dapat merasakannya. Dan nanti apabila waktu sholat berikutnya telah masuk, anda harus berwudhu kembali.

Wallahu a’lam bi al-shawab

Sumber: H.M.Rahmatullah, LC

Author:
• Monday, March 29th, 2010

Berikut jawaban dari pertanyaan yang dijadikan judul pada artikel ini:

Pada prinsipnya sholat tidak boleh ditinggalkan dengan sengaja, meski dalam keadaan sekalipun. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Daud (No. 952), Al Tirmidzi (No.372), Ibnu Majah (No. 1223), dan Ahmad,….Rasulullah SAW bersabda, shalatlah berdiri, jika tidak mampu, shalatlah sambil duduk! Jika masih tidak mampu shalatlah sambil terbaring!”. Maka menurut pendapat yang mengacu pada hadits ini, tidak ada fidyah shalat.

Namun ada hadits riwayat Al-Nasa’i dalam kitabnya Al-Sunan Al-Kubra (IV/43) dan Al-Thahthawi dalam kitabnya Musykil al-Atsar (III/14!) yang semuanya disandarkan kepada Ibnu Abbas ra. yang artinya, “Seseorang tidak dapat menggantikan shalat atau puasa orang lain, tapi dia dapat menggantinya (berupa Fidyah) dengan makanan, setiap harinya satu mud gandum.” Hadits ini dijadikan landasan bagi sebagian umat Islam untuk membayar Fidyah sebagai pengganti shalat yang ditinggalkan. Memang hadits ini adalah merupakan hadits mauquf (perkataan sahabat), namun sebagian ulama menjadikan perkataan para sahabat sebagai salah satu sumber hukum, selama sanadnya shahih. Pastilah hadits yang disandarkan kepada Rasulullah Saw lebih utama dari pada perkataan para sahabat.

Setiap ahli waris pasti menginginkan ayahnya atau ibunya yang meninggal dunia diampuni dosa-dosanya. Namun, ketika ahli waris tahu bahwa jenazah pernah meninggalkan shalat semasa hidupnya, maka akan menambah kesediahan mereka. Mungkin ini pula yang menjadi alasan sebagian kaum muslimin yang melakukan fidyah, meringankan kesedihan keluarrga yang ditinggal, karena dengan fidyah memberikan harapan kepada mereka ayah atau ibu yang meninggal dunia mendapat ampunan. Namun perlu dicatat, bahwa berdosa seseorang yang meninggalkan shalat dengan sengaja karena mengganggap dapat diganti dengan fidyah.

Wallahu a’lam bi al-shawwab

Sumber: H.M. Rahmatullah, Lc.

Author:
• Friday, March 19th, 2010

Sebelum menentukan hukumnya, perlu dipastikan terlebih dahulu bagaimana prosesi pelaksanaan acara tujuh bulanan itu. Apakah ada unsur syiriknya atau tidak ? Ada unsur hura-hura, berlebih-lebihan atau tidak ? Atau hal-hal lain yang jelas dilarang dalam agama. Kalau di dalam pelaksanaanya tidak ada unsur-unsur yang jelas dilarang dalam Islam, misalnya dalam acara tersebut yang mengadakan acara berniat ingin mempererat silahturahmi dengan warga, kemudian bermaksud ingin berbagi rezeki, karena yang mengadakan acara sedang bergembira dan bersyukur kepada Allah SWT atas karunia yang diberikan, dan dia berharap dengan menjamu mereka dan meminta doa restu kepada mereka supaya bayi yang dikandung sehat, dan lahir dengan selamat, maka kegiatan acara tujuh bulanan seperti itu diperbolehkan. Karena niatnya sesuai dengan anjuran dan ajaran agama Islam.

Dan kegiatan seperti itu bukanlah sebuah ritual. Itu sama seperti anda mengundang orang datang ke rumah anda untuk acara jamuan makan. Alangkah baiknya sementara para tamu sudah datang, mereka diajak untuk membaca ayat-ayat Al Quran dan mengucapkan kalimat-kalimat thayyibah (dzikir), sembari anda pun meminta mereka mendoakan kebaikan untuk anda. Dari pada mereka anda undang datang ke rumah anda hanya sekedar kumpul-kumpul, makan-makan dan anda katakan, acara ini saya laksanakan sebagai tanda syukur saya kepada Allah SWT, tetapi kegiatannya tidak mencerminkan syukur.

Memang acara tujuh bulanan hanya ada di Indonesia, khususnya di Jawa. Namun seyogyanya, dalam menyikapi sesuatu kita tidak hanya melihat penamaannya, seperti tujuh bulanan, tapi kita harus melihat subtansi perbuatannya.

Wallahu a’lam bi al-shawab

Sumber : H.M. Rahmatullah, Lc