Archive for the Category ◊ Khazanah Islam ◊

Author:
• Monday, November 06th, 2017

Apakah sah jika pelaksanaan akikah dilakukan sebelum hari ketujuh? Mungkin anda sudah tahu jika akikah disunnahkan dilakukan pada hari ketujuh. Hal ini berdasarkan hadits,

“Dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda, “Setiap anak tergadaikan dengan akikahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, digundul rambutnya dan diberi nama.” (HR. Abu Daud, no. 2838; An-Nasa’i, no.4225; Ibnu Majah no 3165; Ahmad 5: 12. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). 

Yang dimaksud dengan hari ketujuh adalah dihitung dari hari kelahiran. Jika bayi lahir sebelum Maghrib, maka hari tersebut masuk dalam hitungan hari ketujuh.

Berikut keterangan dari para ulama apakah sah jika akikah dilakukan sebelum hari ketujuh. Ulama Syafi’iyah dan Hambali menyatakan bahwa waktu penyembelihan akikah bisa dimulai dari waktu kelahiran. Sedangkan jika dilakukan sebelum kelahiran, tidaklah sah dan akan dianggap sebagai sembelihan biasa.

Adapun ulama Hanafiyah dan Malikiyah menyatakan bahwa waktu akikah dimulai dari hari ketujuh kelahiran dan tidak boleh sebelum itu.

Namun para ulama sepakat bahwa waktu akikah disunnahkan pada hari ketujuh. Sedangkan khilaf atau beda pendapat terjadi pada sah tidak nya waktu penyembelihan sebelum hari ketujuh.

Jika melihat dari segi sah nya, akikah sebelum hari ketujuh tetap sah yang penting dilakukan setelah bayi terlahir. Namun baiknya akikah dilaksanakan pada hari ketujuh setelah kelahiran karena waktu tersebut disepakati.

Sumber : https://rumaysho.com/12814-aqiqah-sebelum-hari-ketujuh.html

Author:
• Monday, November 06th, 2017

Apa seh doa yang dibaca saat menyembelih hewan akikah? Apakah juga harus menghadirkan bayi saat penyembelihan hewan akikah dilaksanakan?

Yang disyari’atkan ketika akikah sama seperti yang disyari’atkan pada kurban. Ada tuntunan membaca:

  • Bismillah
  • Takbir, Allahu Akbar
  • Akikah min.. (sebutkan nama anak yang akan diakikahkan)

Dasar dari hal ini adalah hadits dari Al-Baihaqi dan selainnya.

Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakikahi Al-Hasan dan Al-Husain dengan dua ekor kambing pada hari ketujuh dan diperintahkan agar rambut kepalanya dicukur. Lalu beliau berkata, sembelihlah atas namanya, ucapkanlah “Bismillah wallahu akbar. Allahuma laka wa ilaik. Hadzihi akikah fulan.” (Dengan nama Allah, Allah Maha Besar. Ya Allah, ini milik-Mu dan untuk-Mu. Ini adalah akikah untuk si fulan.”)

Dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam mushannafnya, sebagaimana dalam kurban (udhiyah) dibacakan bismillah, maka dalam akikah juga demikian dibaca bismillah, akikah fulan (disebut nama bayi nya).

Dan kehadiran yang akikah saat penyembelihan hewan akikah tidak menjadi syarat. Karena tidak dicontohkan baik oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum hal yang seperti itu.

Sumber: https://rumaysho.com/14233-doa-yang-dibaca-ketika-menyembelih-aqiqah.html

Author:
• Friday, April 02nd, 2010

Pada prisipnya kondisi sering buang angin (kentut) sama dengan perihal orang yang menderita beser, yaitu masuk dalam kategori keadaan tidak normal, sehingga mendapat perlakuan khusus dalam hukum Islam.

Melihat dari judul diatas, jika masih dapat merasakan ketika buang angin. Setiap berapa menit sekali buang anginnya? Maka upayakan ketika menunaikan sholat sesuai dengan kebiasaan berapa lama anda dapat menahan kentut. Jika dapat menahan kentut sampai 3 menit, maka waktu selama itu sudah sangat cukup untuk menunaikan shalat.

Mengenai membaca Al Quran, selama anda mampu setiap kali buang angin berwudhu, maka lakukan. Tetapi kalau tidak, misalnya karena terlalu sering kentutnya, atau tempat wudhunya jauh sehingga sangat memberatkan, maka tidak mengapa. Karena masalah memegang dan membaca Al Quran bagi orang yang berhadats kecil masih ada perbedaan antara ulama fiqih. Demikian pula dengan i’tikaf, tidak diharuskan dalam keadaan suci dari hadats kecil. Anda tetap dapat berzikir dan melakukan aktifitas lain.

Namu apabila anda sudah tidak kuat lagi dapat merasakan ketika buang angin, sehingga anda tidak tahu ketika anda mengeluarkan angin. Maka cukup setiap kali hendak sholat atau membaca Al Quran anda berwudhu. Dan selama anda shalat (baik sendiri maupun jamaah) yakin saja bahwa anda tidak buang angin dan teruskan sholat hingga selesai, toh anda juga tidak dapat merasakannya. Dan nanti apabila waktu sholat berikutnya telah masuk, anda harus berwudhu kembali.

Wallahu a’lam bi al-shawab

Sumber: H.M.Rahmatullah, LC

Author:
• Monday, March 29th, 2010

Berikut jawaban dari pertanyaan yang dijadikan judul pada artikel ini:

Pada prinsipnya sholat tidak boleh ditinggalkan dengan sengaja, meski dalam keadaan sekalipun. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Daud (No. 952), Al Tirmidzi (No.372), Ibnu Majah (No. 1223), dan Ahmad,….Rasulullah SAW bersabda, shalatlah berdiri, jika tidak mampu, shalatlah sambil duduk! Jika masih tidak mampu shalatlah sambil terbaring!”. Maka menurut pendapat yang mengacu pada hadits ini, tidak ada fidyah shalat.

Namun ada hadits riwayat Al-Nasa’i dalam kitabnya Al-Sunan Al-Kubra (IV/43) dan Al-Thahthawi dalam kitabnya Musykil al-Atsar (III/14!) yang semuanya disandarkan kepada Ibnu Abbas ra. yang artinya, “Seseorang tidak dapat menggantikan shalat atau puasa orang lain, tapi dia dapat menggantinya (berupa Fidyah) dengan makanan, setiap harinya satu mud gandum.” Hadits ini dijadikan landasan bagi sebagian umat Islam untuk membayar Fidyah sebagai pengganti shalat yang ditinggalkan. Memang hadits ini adalah merupakan hadits mauquf (perkataan sahabat), namun sebagian ulama menjadikan perkataan para sahabat sebagai salah satu sumber hukum, selama sanadnya shahih. Pastilah hadits yang disandarkan kepada Rasulullah Saw lebih utama dari pada perkataan para sahabat.

Setiap ahli waris pasti menginginkan ayahnya atau ibunya yang meninggal dunia diampuni dosa-dosanya. Namun, ketika ahli waris tahu bahwa jenazah pernah meninggalkan shalat semasa hidupnya, maka akan menambah kesediahan mereka. Mungkin ini pula yang menjadi alasan sebagian kaum muslimin yang melakukan fidyah, meringankan kesedihan keluarrga yang ditinggal, karena dengan fidyah memberikan harapan kepada mereka ayah atau ibu yang meninggal dunia mendapat ampunan. Namun perlu dicatat, bahwa berdosa seseorang yang meninggalkan shalat dengan sengaja karena mengganggap dapat diganti dengan fidyah.

Wallahu a’lam bi al-shawwab

Sumber: H.M. Rahmatullah, Lc.

Author:
• Friday, March 19th, 2010

Sebelum menentukan hukumnya, perlu dipastikan terlebih dahulu bagaimana prosesi pelaksanaan acara tujuh bulanan itu. Apakah ada unsur syiriknya atau tidak ? Ada unsur hura-hura, berlebih-lebihan atau tidak ? Atau hal-hal lain yang jelas dilarang dalam agama. Kalau di dalam pelaksanaanya tidak ada unsur-unsur yang jelas dilarang dalam Islam, misalnya dalam acara tersebut yang mengadakan acara berniat ingin mempererat silahturahmi dengan warga, kemudian bermaksud ingin berbagi rezeki, karena yang mengadakan acara sedang bergembira dan bersyukur kepada Allah SWT atas karunia yang diberikan, dan dia berharap dengan menjamu mereka dan meminta doa restu kepada mereka supaya bayi yang dikandung sehat, dan lahir dengan selamat, maka kegiatan acara tujuh bulanan seperti itu diperbolehkan. Karena niatnya sesuai dengan anjuran dan ajaran agama Islam.

Dan kegiatan seperti itu bukanlah sebuah ritual. Itu sama seperti anda mengundang orang datang ke rumah anda untuk acara jamuan makan. Alangkah baiknya sementara para tamu sudah datang, mereka diajak untuk membaca ayat-ayat Al Quran dan mengucapkan kalimat-kalimat thayyibah (dzikir), sembari anda pun meminta mereka mendoakan kebaikan untuk anda. Dari pada mereka anda undang datang ke rumah anda hanya sekedar kumpul-kumpul, makan-makan dan anda katakan, acara ini saya laksanakan sebagai tanda syukur saya kepada Allah SWT, tetapi kegiatannya tidak mencerminkan syukur.

Memang acara tujuh bulanan hanya ada di Indonesia, khususnya di Jawa. Namun seyogyanya, dalam menyikapi sesuatu kita tidak hanya melihat penamaannya, seperti tujuh bulanan, tapi kita harus melihat subtansi perbuatannya.

Wallahu a’lam bi al-shawab

Sumber : H.M. Rahmatullah, Lc