Tag-Archive for ◊ Domba ◊

Author:
• Tuesday, May 11th, 2010

Pemberian pakan hijauan dalam keadaan segar umumnya lebih disukai dalam keadaan layu atau kering. Namun, terdapat beberapa jenis hijauan yang masih mengandung racun dan sangat berbahaya jika diberikan dalam keadaan segar, misalnya daun singkong (racun sianida), lamtoro (mimosin), dan gliricidae (tanin). Karena itu, pakan hijauan tersebut harus dilayukan terlebih dahulu selama 2-3 jam di bawah terik matahari. Hijauan tersebut juga bisa didiamkan selama semalaman sebelum diberikan kepada domba.

Jumlah pakan hijauan segar yang diberikan pada domba dewasa, rata-rata adalah 10% dari berat badan atau sekitar 4-5 kg/ekor/hari. Pakan ini diberikan 2-3 kali sehari (pada pagi dan sore hari). Pakan konsentrat diberikan sebelum pakan hijauan. Hal tersebut dilakukan agar semua zat makanan yang diperlukan untuk pertumbuhan, produksi, dan reproduksi dapat terpenuhi.

Berikut Beberapa Cara Mengefisienkan Penggunaan Bahan Pakan :

1. Mencincang Hijauan

Hijauan yang dicincang 5-10 cm akan lebih mudah dikonsumsi oleh domba karena bentuknya yang kecil-kecil.

2. Pemberian Urea Molasses Block (UMB)

Urea molasses block (UMB) mengandung urea, dedak padi, tepung tapioka, bungkil kedelai, serta beberapa mineral seperti garam, tepung tulang, dan kapur. Pemberian UMB sebesar 4 gram /hari/kg berat badan harian domba mampu meningkatkan pertambahan berat badan harian domba. Di samping itu, mampu meningkatkan daya serap pakan berserat kasar cukup tinggi, seperti kulit dan tongkol jagung.

3. Pemberian Urea

Urea merupakan bahan potensial yang mengandung non-protein nitrogen (NPN). Di dalam rumen, NPN dapat dicerna menjadi NH3 yang merupakan bahan pembentuk protein. Namun, penggunaan urea perlu dibatasi tidak lebih dari 1% dari bahan kering hijauan atau tidak lebih dari 2% konsentrat. Selain itu, pemberian urea juga harus diimbangi dengan pemberian bahan pakan sumber energi.

Sumber: Buku Petunjuk Praktis Menggemukkan Domba, Kambing, dan Sapi Potong

Author:
• Tuesday, April 06th, 2010

Domba termasuk hewan herbivora (pemakan tumbuhan) dan digolongkan sebagai hewan ruminansia (memiliki rumen). Yang dimaksud dengan rumen adalah alat pencernaan khas pada ruminansia yang memiliki mikroba kompleks sehingga dapat membantu proses fermentasi pakan. Ruminansia secara spesifik mampu mensintesis asam amino dari unsur yang dihasilkan oleh berbagai proses yang terjadi di dalam rumen.

Seperti halnya ternak lain, domba membutuhkan pakan dan air minum. Selain sebagai sumber energi, pakan berfungsi sebagai pemasok nutrien yang berguna bagi metabolisme dan perbaikan sel yang rusak. Air minum diperlukan untuk mencerna pakan yang berupa hijauan.

A. Kebutuhan Zat Gizi Pada Domba

Kebutuhan zat gizi pada domba dipengaruhi oleh umur, kondisi fisiologis (kondisi pencernaan), pertambahan berat badan yang diinginkan dan kondisi lingkungan (suhu, kelembapan, kecepatan angin, dan cahaya matahari). Untuk daerah tropis, domba sepertinya memerlukan energi dan protein lebih banyak daripada kambing yang lebih banyak membutuhkan protein.

B. Jenis Pakan

Bahan pakan yang dapat diberikan kepada domba terdiri dari tiga jenis, yaitu pakan hijauan, penguat, dan pakan tambahan. Berikut penjelasan ketiga jenis pakan tersebut:

1. Pakan Hijauan

  • Golongan rumput-rumputan seperti rumput gajah, rumput benggala, rumput raja, dan rumput alam. Pakan hijauan merupakan makanan utama bagi domba yang tidak hanya berfungsi sebagai pengisi perut tetapi juga sebagai sumber protein, vitamin dan mineral.
  • Golongan kacang-kacangan seperti daun lamtoro, turi, gamal, daun kacang tanah, daun albasia, kaliandra, kelor dan siratro.
  • Hasil limbah pertanian seperti daun nangka, daun waru, daun dadap, daun pisang, daun jagung, daun ketela pohon, daun kembang sepatu, daun ketela rambat, dan daun beringin.

2. Pakan Penguat (Konsentrat)

Pakan penguat terutama diberikan pada masa pertumbuhan, masa bunting dan saat induk menyusui. Konsentrat untuk ternak domba sebaiknya memiliki kandungan protein lebih dari 18%. Golongan bahan penyusun konsentrat diantaranya dedak, jagung kuning, bungkil kelapa, tepung ikan, bungkil kedelai, ampat tahu, ampas kecap, dan biji kapas.

3. Pakan Tambahan

Disamping pakan hijauan dan konsentrat, domba juga perlu diberi tambahan asupan gizi berupa vitamin dan zat mineral, diantaranya Ca, Mg, Na, dan K. Pupuk urea dapat dicampurkan dalam pakan sebab urea berfungsi sebagai sumber nitrogen NPN (Non-protein Nitrogen).

Sumber: Buku Petunjuk Praktis Menggemukkan Domba, Kambing, dan Sapi Potong

Category: Artikel Domba  | Tags: ,  | Leave a Comment
Author:
• Monday, March 22nd, 2010

Umumnya kandang domba didesain sebagai kandang koloni, bukan kandang individual. Hal  ini didasarkan pada sifat domba yang senang hidup berkelompok. Namun, berdasarkan tipe alasnya kandang domba dibagi menjadi dua tipe yaitu kandang lemprak dan kandang panggung.

1. Kandang Lemprak

Kandang lemprak dicirikan dengan lantai yang menggunakan tanah sebagai alasnya. Kandang jenis ini hanya beralaskan kotoran dan sisa-sisa hijauan pakan. Selain itu, kandang juga tidak dilengkapi dengan tempat pakan. Kandang hanya dilengkapi keranjang rumput yang diletakkan diatas alas. Pakan sengaja diberikan berlebihan agar menghasilkan kotoran yang banyak. Kotoran akan dibongkar setelah sekitar 1 – 6 bulan.

Lantai kandang lemprak yang terbuat dari tanah tidak dianjurkan karena tidak memenuhi syarat kesehatan. Kotoran domba maupun air minum yang tumpah dapat membuat lantai tanah menjadi basah dan becek. Karena itu, alas yang disarankan untuk kandang lemprak adalah alas yang terbuat dari bahan semen. Agar lantai tidak licin, tekstur semen dibuat agak kasar dengan cara tidak diberi semen penghalus atau memberi corak semen dengan batang lidi. Lantai juga perlu dibuat miring ke satu arah untuk memudahkan pembuangan kotoran dan mencegah genangan air.

Dalam beternak domba secara intensif, kandang ini jarang digunakan karena pembersihannya lebih merepotkan. Kandang lemprak biasanya digunakan para peternak domba pada skala kecil dengan jumlah domba yang tidak terlalu banyak.

2. Kandang Panggung

Kandang panggung dicirikan dengan adanya tiang penyangga kandang sehingga lantai kandang terletak diatas tanah (sekitar 0,5 – 1m) dan berbentuk seperti panggung. Bahan lantai biasanya terbuat dari bilah bambu, kayu, atau papan. Tipe kandang ini memiliki kolong yang bermanfaat sebagai penampung kotoran. Lantai kolong biasanya diberi semen dan dibuat miring ke arah selokan agar lebih memudahkan pekerja ketika membersihkan kotoran.

Meskipun pembuatan kandang panggung lebih mahal, tetapi kebersihan lantai kandang ini lebih terjamin. Hal ini disebabkan, lantai kayu atau bilah bambu dipasang dengan sedikit celah sehingga memudahkan kotoran terjatuh ke bawah kandangg. Selain itu, domba terhhindar dari serangan penyakit dan parasit karena kandang lebih mudah dibersihkan. Oleh karena itu, kandang panggung banyak digunakan pada peternakan domba dengan pola intensif.

Sumber: Buku Petunjuk Praktis Menggemukkan Domba, Kambing, dan Sapi Potong

Author:
• Friday, March 12th, 2010

Pada habitat aslinya domba hidup di alam secara bebas. Aktivitas makan, minum, dan beristirahat dilakukan tanpa kontrol. Karena itu, penempatan domba di dalam kandang perlu perhatian sehubungan dengan kesejahteraan hewan.

1. Lokasi Kandang

Lokasi ideal untuk penggemukan domba adalah daerah yang bercurah hujan 1500 – 3000 mm/tahun dengan kelembapan 60 – 80%. Lokasi topografi yang berbukti bisa menjadi pilihan karena bisa menghambat arah angin. Lokasi kandang sebaiknya berada di areal yang cukup luas, dekat sumber pakan, memiliki sumber air, relatif dekat dari pusat pemasaran, udaranya segar, lingkungan cukup tenang, serta jauh dari daerah pemukiman dan sumber air penduduk (minimun 10 meter).

Domba sangat peka terhadap perubahan suhu lingkungan. Curah hujan yang terlalu tinggi bisa mengakibatkan gangguan kesehatan pada domba. Sementara itu, suhu tinggi dapat menyebabkan konsumsi pakan menurun sehingga laju pertumbuhan domba juga menurun.

2. Letak dan Arah Kandang

Kandang sebaiknya dibangun dengan menutup bagian-bagian tertentu yang merupakan tempat dominan masuknya angin. Pohon-pohon pelindung perlu ditanam sebagai pemecah angin. Selain itu, sinar matahari pagi diusahakan masuk ke dalam kandang secara langsung.

3. Ukuran Kandang

Pada dasarnya, ukuran kandang yang dibuat bersifat relatif tergantung dari ketersediaan tempat dan bahan. Sebagai contoh, peternak dapat menggunakan patokan 1 : 1,5 untuk kebutuhan luas kandang. Rasio itu menggambarkan untuk 1 ekor domba dibutuhkan luas kandang sebesar 1,5 m2. Karena itu, untuk penggemukan 10 ekor domba dibutuhkan luas kandang sebesar 15 m2. Pembuatan kandang sebaiknya juga memperhitungkan potensi pengembangan.

4. Konstruksi Kandang

a. Atap

Bahan atap yang bisa digunakan cukup beragam, misalnya rumbia, genting asbes atau seng. Untuk kandang yang berlokasi di daerah panas, dianjurkan menggunakan atap yang terbuat dari bahan berdaya serap panas kecil, misalnya genting, asbes atau rumbia. Untuk kandang yang berlokasi di daerah dingin, atapnya disarankan terbuat dari bahan yang berdaya serap panas seperti seng.

b. Tiang Kandang

Tiang kandang umumnya terbuat dari kayu. Kayu tiang yang digunakan dapat menggunakan kayu kaso berukuran 15 x 15 cm. Jika sulit mengadakan kayu kaso, kayu gelondongan pun dapat digunakan asalkan cukup kuat.

c. Dinding Kandang

Dinding kandang bisa menggunakan bahan dari kayu atau bambu. Namun, peternak biasanya membuat dinding kandang dari belahan bambu karena harganya lebih murah. Selain itu, bambu mudah diatur sehingga peternak bisa membuat celah yang berfungsi sebagai jalan sirkulasi udara dari dan ke dalam kandang (ventilasi). Dinding kandang bagian bawah (0,5 – 1 m dari permukaan lantai) sebaiknya dibuat agak rapat dan bagian atas (lebih kurang 2 m dari lantai) tidak perlu terlalu rapat. Hal ini bertujuan untuk memudahkan masuknya cahaya matahari dan sirkulasi udara ke dalam kandang.

d. Alas

Alas kandang bisa terbuat dari bambu, papan, semen, atau tanah saja. Lantai kandang panggung biasanya terbuat dari bilah bambu atau kayu. Jarak antara bilah bambu atau kayu harus disesuaikan agar kaki domba tidak mudah terperosok dan menyebabkan luka. Biasanya jarak antara bambu atau kayu sekitar 1 cm. Jarak tersebut berguna mempermudah pembuangan kotoran langsung ke kolong kandang. Sementara itu, lantai kandang lemprak biasanya terbuat dari tanah atau semen.

e. Jalan (Lorong) Kandang

Jalan atau lorong kandang bisa dibuat di tengah-tengah kandang. Jalan kandang ini sebaiknya dibuat dari bahan semen agar tidak mudah becek. Mengingat fungsi lorong kandang untuk mempermudah pekerja memberi pakan, membersihkan domba, dan membersihkan kandang. Lebar jalan kandang disesuaikan dengan jumlah kandang dan ukuran kandang domba, yaitu sekitar 50 – 100 cm.

Sumber: Buku Petunjuk Praktis Menggemukkan Domba, Kambing, dan Sapi Potong

Category: Artikel Domba  | Tags: ,  | Leave a Comment
Author:
• Monday, February 22nd, 2010

Umumnya orang melihat umur domba dan kambing dari jumlah gigi seri yang sudah tumbuh. Cara penentuan umur domba dan kambing dengan penentuan jumlah gigi seri yang tumbuh tidak selalu tepat. Namun, cara ini dapat memberikan petunjuk yang dapat dipercaya tentang umur ternak tersebut.

1. Gigi susu belum ada yang lepas : Perkiraan umur < 1 tahun

2. Sepasang gigi susu tengah berganti dengan gigi tetap : Perkiraan umur 1 – 1,5 tahun

3. Dua pasang gigi susu tengan berganti dengan gigi tetap : Perkiraan umur 1,5 – 2 tahun

4. Tiga pasang gigi susu berganti dengan gigi tetap : Perkiraan umur 2,3 – 3 tahun

5. Seluruh gigi susu berganti dengan gigi tetap : Perkiraan umur 4 tahun

6. Gigi tetap sudah usang : Umur sudah lanjut

Sumber: Buku Petunjuk Praktis Menggemukkan Domba, Kambing, dan Sapi Potong

Author:
• Wednesday, February 17th, 2010

Berdasarkan tujuan pemeliharaannya, kriteria pemilihan domba bakalan setidkanya dibagi menjadi dua, yaitu bakalan indukan dan bakalan penggemukan (untuk dipotong). Pemilihan domba untuk penggemukan lebih mudah dan fleksibel dibandingkan dengan domba untuk indukan.

bagaimana menyeleksi bibit domba

Berikut hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memilih domba bakalan untuk digemukkan.

1. Domba memiliki tubuh yang sehat, lincah, tidak cacat, dan bulunya tidak kusam. Domba yang umurnya masih muda, tetapi terlihat kurus masih dapat dipilih dengan pertimbangan domba masih bisa tumbuh dan berat badanya diharapkan bertambah dengan perlakuan pakan yang lebih baik.

2. Prioritas domba jantan. Hal ini disebabkan, tingkat pertumbuhan domba jantan lebih cepat. Selain itu, adanya larangan pemotongan domba betina yang masih produktif. Namun, tidak tertutup kemungkinan menggemukkan domba betina yang sudah tidak produktif lagi, misalnya domba betina yang mandul (majir) atau sudah tua.

3. Berasal dari jenis domba lokal dan merupakan domba yang sudah beradaptasi dengan lingkungan setempat. Jika domba terpaksa didatangkan dari suatu lokasi yang kondisinya berbeda dengan lokasi penggemukan maka perlu masa adaptasi sekitar 2 – 4 minggu, sehingga membutuhkan dana untuk adaptasi ini.

4. Domba yang akan digemukkan memiliki boboot badan sekitar 15 kg dan berumur 4 bulan – 1 tahun. Untuk mengetahui umur bakalan, peternak bisa melihat catatan domba. Namun, tidak semua hewan ternak memiliki catatan yang lengkap semenjak lahirnya. Karena itu, untuk mengetahui umur domba dapat dilihat dari susunan gigi.

Sumber: Buku Petunjuk Praktis Menggemukkan Domba, Kambing, dan Sapi Potong

Category: Artikel Domba  | Tags: ,  | Leave a Comment
Author:
• Friday, February 05th, 2010

Berikut jenis-jenis domba:

1. Domba Ekor Tipis

Domba ekor tipis dikenal sebagai domba asli Indonesia serta berkembang di daerah Jawa Tengah dan Jawa Barat. Domba ini berukuran sangat kecil dan lambat dewasa sehingga dagingnya relatif sedikit. Berat badan domba jantan 30-40 kg dan domba betina 15-20 kg. Warna bulunya putih dominan dengan warna hitam di seputar mata, hidung, dan beberapa bagian tubuh lain.

Domba jantan memiliki tanduk kecil dan melingkar, sedangkan domba betina tidak bertanduk. Keunggulan domba ini adalah sifatnya yang prolifik, karena mampu melahirkan kembar (2-5 ekor setiap kelahiran).

domba ekor tipis

2.  Domba Ekor Gemuk

Domba ekor gemuk berkembang di Jawa Timur, Madura, Sulawesi, dan Lombok. Domba ini beradaptasi dan tumbuh lebih baik di daerah beriklim kering. Bentuk badannya sedikit lebih besar daripada domba lokal lainnya. Berat domba jantan mencapai 45-50 kg, sedangkan domba betina 25-50 kg.

Domba jantan dan betina umumnya tidak bertanduk. Karakteristik domba ini yaitu ekornya panjang, lebar, dan mampu menimbun lemak yang banyak sehingga ekornya menjadi sangat besar. Namun, bagian ujung ekornya mengecil karena di bagian ini tidak terjadi penimbunan lemak. Cadangan lemak di bagian ekor berfungsi sebagai sumber energi pada musim paceklik. Bulu domba ini juga kasar dan gembel.

domba ekor gemuk

3.  Domba Garut

Domba garut diperkirakan merupakan hasil persilangan segitiga antara domba asli Indonesia, domba merino dari Asia Kecil, dan domba ekor gemuk dari Afrika Selatan. Domba jantan mempunyai berat 60-80 kg, sedangkan betina 30-40 kg. Badan domba garut besar dan lebar, sedangkan lehernya kuat. Karena itu, domba ini sering dijadikan domba aduan. Kulit domba garut merupakan salah satu kulit dengan kualitas terbaik di dunia.

Ciri khas domba garut atau domba priangan jantan adalah memiliki tanduk besar, melengkung ke belakang berbentuk spiral, dan pangkal tanduk kanan dan kiri hampir menyatu. Sementara domba betina tidak memiliki tanduk, panjang telinga sedang, dan terletak di belakang tanduk.

ternak domba garut

Sumber: Buku Petunjuk Praktis Menggemukkan Domba, Kambing, dan Sapi Potong

Author:
• Friday, February 05th, 2010

Domba termasuk hewan ternak yang mudah beradaptasi dengan berbagai kondisi lingkungan. Hewan ini senang hidup berkelompok swsehingga tidak akan memisahkan diri dari kelompoknya saat digembalakan.

Domba cepat berkembang biak, dalam dua tahun induk domba dapat melahirkan anak sebanyak tiga kali dan bisa melahirkan lebih dari dua ekor per kelahiran.

Keuntungan usaha penggemukan domba berasal dari selisih berat badan pada awal program dan berat badan pada akhir program penggemukan.

Selain itu, anakan domba menjadi  aset peternak sebagai penyedia daging, penyedia pupuk, dan sebagai hewan kontes.

Sumber: Buku Petunjuk Praktis Menggemukkan Domba, Kambing, dan Sapi Potong