Tag-Archive for ◊ Kambing ◊

Author:
• Tuesday, July 26th, 2011

Halaman untuk informasi jual kulit kambing di website ini masih kosong. Kami mengundang anda yang bisa menyediakan kulit kambing untuk dijual untuk bekerja sama dengan kami.

Silahkan untuk menghubungi nomor berikut: (021) 975 15 224 / 0818 064 50 434 untuk bisa melakukan komunikasi dengan kami dan membicarakan skema kerjasama untuk penjualan kulit kambing.

Category: Bisnis Kambing  | Tags: ,  | 2 Comments
Author:
• Tuesday, July 26th, 2011

Jika anda bisa menyediakan kepala kambing untuk dijual dan ingin menaruh informasi jualan anda disini, kami akan dengan senang hati untuk bisa bekerja sama dengan anda. Perihal teknis kerjasama akan dibicarakan bisa melalui telepon atau bertemu langsung.

Siapkan detail info akan kepala kambing yang akan dijual. Baik perihal pembayaran, pengiriman ke pembeli. Untuk bisa berhubungan langsung dengan kami bisa menghubungi (021) 975 15 224 / 0818 064 50 434.

Category: Bisnis Kambing  | Tags: ,  | 5 Comments
Author:
• Tuesday, July 26th, 2011

Informasi untuk produk sabun dari susu kambing masih belum tersedia di website ini. Jika anda merupakan produsen dari produk tersebut dan ingin menaruh informasi produk anda disini bisa menghubungi kami di (021) 975 15 224  / 0818 064 50 434.

Peminat akan sabun susu kambing di online lumayan banyak. Jadi sangat disayangkan jika halaman ini tidak segera diisi dengan produk anda.

Author:
• Sunday, May 29th, 2011

Biasanya, kambing potong dipasarkan bersamaan dengan domba, bahkan dengan sapi di pasar hewan. Daging asal ruminansia kecil ini mempunyai pasar yang sangat spesifik, tetapi membutuhkan jumlah ternak yang tidak sedikit. Pasar bagi daging dapat digolongkan menjadi dua bagian besar, yaitu pasar tradisional bagi masyarakat perdesaan dan sebagian masyarakat kota serta pasar khusus bagi masyarakat kota. Kedua jenia konsumen daging kambing ini memiliki karakteristik yang berbeda.

Konsumen masyarakat kota lebih memperhatikan masalah kesehatan hewan (daging), cara penanganan, dan pembagian jenis daging. Sementara, konsumen dari pasar tradisional tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut.

Di pasar tradisional, daging kambing dibeli pedagang dari peternak yang kemudian dipotong di rumah pemotongan hewan atau dipotong sendiri. Penjualan daging ini dilakukan di pasar umum. Masyarakat kota umumnya membeli hewan (daging) dari pedagang daging yang telah disertifikasi. Daging dipotong di rumah pemotongan hewan dan dijual di supermarket atau di toko khusus yang menjual daging. Sementara di hotel dan restoran, selain membeli dari supermarket, pengelolanya juga membeli dari pemasok yang khusus mengantarkan daging ke restoran sesuai dengan pesanan.

Tingkat permintaan daging kambing tidak terlalu fluktuatif sepanjang tahun. Namun, permintaan akan meningkat dengan cepat pada saat Hari Raya Idul Adha. Pada hari raya tersebut, permintaan daging akan meningkat dan harga pun akan naik. Pada Hari Raya Idul Adha, kambing yang dijual hidup harus sehat dan tidak cacat. Pasar potensial lain yaitu pedagang sate, gulai, tongseng dan sup kambing.

Sumber: Buku Petunjuk Praktis Menggemukkan Domba, Kambing, Dan Sapi Potong

Author:
• Saturday, May 14th, 2011

Berikut ini kami ingin berbagi informasi seputar jenis-jenis penyakit yang sering dialami oleh kambing dan juga penyebab munculnya penyakit beserta cara pengendaliannya.

1. Pneumonia

Umumnya, serangan pneumonia disebabkan keadaan udara yang lembap, dingin dan kotor. Pneumonia sering menyerang kambing yang kurang baik pemeliharaannya. Kambing yang terserang pnemonia menunjukkan gejala seperti sulit bernafas, nafsu makan hilang, sering batuk dan demam.

Pencegahan pneumonia bisa dilakukan dengan cara menjaga kandang agar tidak lembap, selalu bersih, serta memperbaiki sirkulasi udara, tidak ada genangan air di sekitar kandang, menutup kandang jika angin kencang, dan memisahkan kambing yang sakit dengan kambing yangs ehat. Pengobatan dapat dilakukan dengan memberikan preparat antibiotik, tetapi harus sepengetahuan dokter hewan atau mantri hewan setempat.

2. Konstipasi

Konstipasi biasa menyerang anak kambing karena kotoran pertama yang berwarna hitam mengental dan keras. Akibatnya, kotoran yang biasanya dikeluarkan beberapa jam setelah kelahiran tersebut tidak bisa keluar. Gejala konstipasi terlihat dari anak kambing yang memperlihatkan tanda-tanda susah buang kotoran, berguling-guling, dan sering mengembik.

Pencegahan pada penyakit ini dapat dilakukan dengan cara memberikan pakan yang cukup. Sementara itu, pengobatan konstipasi dapat dilakukan dengan memberikan minyak sayur sebanyak satu sendok makan pada kambing.

3. Kembung (Bloat)

Penyakit kembung terjadi karena kambing dilepas dan memakan rumput yang masih basah, sehingga timbul gas dalam pencernaan yang tidak bisa dikeluarkan dari dalam perut. Kambing yang menderita kembung terlihat dari bagian perut sebelah kirinya yang membesar, punggung membungkuk, dan frekuensi pernapasan meningkat. Penyakit kembung yang tidak segera diatasi dapat menyebabkan kematian.

Pencegahan penyakit ini dapat dilakukan dengan tidak memberi kambing pakan yang masih basah atau tidak melepas kambing yang lapar terlalu pagi, karena rumput masih basah oleh embun. Pengobatan penyakit ini dapat dilakukan dengan cara menekan-nekan perut bagian bawah dengan menggunakan bambu utuh. Sambil ditekan dengan bambu, angkat hewan sampai gas keluar.

4. Ecthyma Contagiosa (Orf)

Penyakit ecthyma contagiosa disebabkan virus yang bersifat zoonosis, yaitu bisa menular kepada manusia. Gejalanya terdapat luka di sekitar mulut yang bisa menyebar ke sela-sela kuku. Akibatnya badan kambing menjadi kurus karena nafsu makan menurun. Penyakit ini bisa sembuh dengan sendirinya setelah 4 minggu. Namun bisa mengakibatkan kematian jika terjadi infeksi sekunder.

Pencegahan penyakit ini bisa dilakukan dengan mengkarantinakan kambing yang berasal dari tempat lain selama 2-3 minggu atau mengisolasi kambing yang diduga menderita penyakit tersebut. Pengobatan dilakukan dengan memberikan antibiotika leukomosin. Antibiotik tersebut untuk mencegah infeksi sekunder yang bisa menyebabkan kematian.

5. Keracunan

Keracunan disebabkan  kambing mengonsumsi pakan hijauan yang mengandung racun. Gejalanya, kambing mengalami kejang-kejang, mulut berbusa, selaput lendir mata berwarna kebiru-biruan, dan kotoran bercampur darah. Pada kondisi yang parah bisa menyebabkan kematian yang mendadak.

Pada kasus keracunan yang diketahui secara dini, pemberian tablet norit atau air kelapa muda bisa menyelamatkan kambing dari kematian. Namun jika sudah akut, kambing sulit tertolong. Pencegahan dilakukan dengan cara tidak memberikan hijauan yang mengandung racun, seperti daun singkong segar, dan hijauan yang masih muda. Selain itu, harap diperhatikan tempat dimana kambing digembalakan, jangan sampai ada tanaman beracun yang bisa termakan oleh kambing. Daun singkong dan hijauan lain dapat diberikan jika dilakukan terlebih dahulu selama 3-4 jam.

6. Cacingan

Cacingan disebabkan oleh serangan cacing haemonchus cocortus yang hidup bersama cacing lain. Cacing ini melekat pada selaput usus dan mengisap sari makanan. Kambing penderita cacingan tidak bisa gemuk, meskipun makannya banyak. Biasanya anak kambing berumur 3-4 bulan yang terserang penyakit ini bisa menjadi kurus, bahkan mengalami kematian.

Gejalanya yaitu kambing susah buang kotoran, kotoran yang keluar pada awalnya keras lalu lunak dan akhirnya mencret, akibatnya bulu dekat anus menjadi kotor oleh kotoran mencret. Selain itu, perut kambing terlihat besar, bulunya kasar (tidak mengilap), dan terlihat lesu.

Pencegahan penyakit cacingan dapat dilakukan dengan cara menjaga kebersihan kandang dan menggembalakan kambing pada siang hari agar tidak ada lagi telur cacing yang menempel di rumput. Seluruh kambing diberi obat cacing, terutama bila ada kambing yang terserang cacingan. Untuk obat cacing yang biasa digunakan antara lain cetarin concurat, wormex powder, atau pheno plus dosis 5-10 g/ekor, diberikan melalui air minum setiap 3 bulan sekali. Atau sesuai dosis yang ada dalam kemasan. Sebelum pemberian obat cacing, kambing dipuasakan terlebih dahulu selama 12 bulan.

Sumber: Buku Petunjuk Praktis Menggemukkan Domba, Kambing, dan Sapi Potong

Author:
• Thursday, March 31st, 2011

Dalam kehidupannya, ternak kambing memerlukan beberapa jenis pakan. Berikut adalah penjelasan tentang jenis-jenis pakan yang diperlukan oleh kambing.

1. Pakan Hijauan

Pakan hijauan terdiri dari dua jenis, yaitu pakan dari rumput-rumputan dan pakan dari legume. Pakan rumput-rumputan diantaranya rumput gajah, rumput benggala, rumput raja dan turi. Sedangkan contoh pakan legume antara lain seperti lamtoro, kaliandra, kacang-kacangan, dan harendong. Namun, daun-daunan hijau lebih disukai oleh kambing dibandingkan rumput. Komposisi masing-masing pakan tergantung pada kebutuhan ternak, yaitu antara kambing menyusui, pemacek dan dewasa.

Campuran daun-daunan dan rumput dengan perbandingan 1 : 1 akan saling melengkapi dan menjamin ketersediaan gizi yang lebih baik. Di samping itu, kambing tidak cepat bosan melahap pakan hijau yang tersedia. Hindari pemberian hijauan yang masih muda. Jika terpaksa digunakan hendaknya diangin-anginkan terlebih dahulu selama 3-4 jam, untuk menghindari terjadinya bloat (kembung) pada kambing.

2. Pakan Limbah Industri dan Pertanian

Selain pakan hijauan, kambing juga menyukai pakan yang berasal dari limbah pertanian. Limbah industri yang dapat dijadikan pakan antara lain seperti ampas tahu, ampas tempe, ampas singkong, bungkil kedelai, bungkil kacang tanah, dedak padi, dan dedak jagung. Sementara contoh limbah pertanian antara lain seperti jerami padi, jerami jagung, daun singkong, daun nangka dan limbah kelapa.

3. Pakan Tambahan

Pakan tambahan berguna untuk memenuhi kebutuhan mineral dan meningkatkan nafsu makan. Selain itu, pakan tambahan ini bermanfaat untuk menutupi kekurangan zat gizi yang terdapat pada hijauan. Sumber pakan tambahan berupa campuran mineral (mineral mix) dari garam dapur, kapur, dan premix.

Sumber: Buku Petunjuk Praktis Menggemukan Domba, Kambing & Sapi Potong

Author:
• Friday, March 04th, 2011

Lokasi kandang kambing sebaiknya jauh dari pemukiman penduduk, berada diatas tanah yang padat atau tidak mudah becek ketika hujan, cukup sinar matahari, kelembapan 60-70%, dekat dengan sumber air, dan mudah dijangkau oleh kendaraan umum. Kandang hendaknya dibuat membujur dari arah timur ke barat, diusahakan juga kandang menghadap timur agar sinar matahari pagi dapat masuk ke dalam kandang.

Apabila lokasi peternakan berada di daerah yang embusan anginnya kencang, peternak hendaknya menanami sekeliling kandang dengan pepohonan agar dapat melindungi kandang dari embusan angin keras secara lansgung. Selain mengurangi embusan angin, daun dan buah pohom dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak.

Ukuran Kandang Kambing

Seekor kambing dewasa membutuhkan ruang seluas 1 x 1.5 m. Dengan begitu, kandang seluas 1.5 x 10 m cukup untuk menempatkan 10 ekor kambing. Tinggi lantai dari permukaan tanah 75-100 cm. Sekat kandang sebaiknya dapat digeser agar mudah mengatur ruangan sesuai kebutuhan dan tingginya 70-80 cm. Dasar kolong kandang dibuat dari bahan semen untuk menampung dan mempermudahkan peternak membersihkan kotoran.

Bahan Penyusun Kandang Kambing

Atap dari kandang kambing disarankan terbuat dari bahan-bahan yang ringan. Sebaiknya menggunakan rumbia, seng, asbes, alang-alang, genting sebagai bahan yang digunakan sebagai atap kandang. Untuk daerah yang bersuhu panas, disarankan menggunakan bahan yang daya serapnya kecil seperti rumbia atau genting. Sementara itu, untuk lokasi yang bersuhu dingin disarankan atap terbuat dari bahan yang daya serap panasnya tinggi.

Untuk alas kandang kambing bisa langsung menggunakan tanah atau terbuat dari semen, papan, atau belahan bambu, tergantung jenis kandang yang digunakan. Lantai kandang dibuat miring kurang lebih 10 derajat dan bahannya harus mudah menyerap air agar kandang tetap kering ketika dibersihkan. Dinding kandang dapat dibuat dari belahan bambu, kayu bekas bangunan atau bahan-bahan lain yang mudah diperoleh di daerah setempat.

Sumber: Buku Petunjuk Praktis Menggemukkan Domba, Kambing, & Sapi Potong

Author:
• Thursday, February 24th, 2011

Berikut adalah beberapa hal yang biasa dilakukan untuk melakukan perawatan pada kambing.

1. Sanitasi Pada Kandang Kambing

Kandang kambing harus dibersihkan rutin setiap pagi, terutama lantai yang penuh dengan kotoran kambing. Tempat pakan dan tempat minum juga harus dibersihkan tiap hari untuk mencegah penyebaran penyakit melalui makanan dan minuman. Setidaknya setiap 6 bulan sekali kandang sebaiknya dikosongkan dan disemprot dengan disinfektan dengan tujuan membunuh mkroba penyebab penyakit.

2. Pemberian Obat Cacing Pada Kambing

Cacing merupakan parasit dalam tubuh yang mengakibatkan ternak menjadi kurus, meskipun telah makan banyak. Umumnya, obat cacing diberikan 2-3 bulan sekali, lewat mulut atau lewat suntikan. Obat cacing yang diberikan lewat mulut adalah albandazole sebanyak 10-20 mb/kg BB (berat badan kambing yang diberi obat), febendazole sebanyak 0,2-0,25 ml/kg BB. Sementara obat yang diberikan lewat suntikan adalah dovanile sebanyak 0,1 ml/kg BB.

Vaksinasi untuk ternak kambing biasanya dilakukan oleh mantri hewan atau petugas dinas peternakan secara serentak di wilayah tertentu yang diduga akan terjadi penyebaran penyakit menular. Vaksinasi terutama dilakukan untuk mencegah terkena penyakit mulut dan kuku (PMK) serta dakangan (orf).

3. Pencukuran Bulu Kambing

Bulu kambing perlu juga dicukur untuk mengatur panas tubuh dan menjaga kesehatan kambing. Pencukuran bulu kambing biasanya dilakukan setelah kambing dimadikan. Ketika dicukur, kaki kambing perlu diikat untuk mempermudah pencukuran bulu.

4. Pemotongan Kuku Pada Kambing

Kuku kambing yang panjang akan membuat kambing mudah terkena infeksi, terpeleset dan tidak bisa menjaga keseimbangan ketika berjalan. Karena itu, kuku yang sudah panjang harus dipotong dengan gunting tajam, setidaknya setiap dua bulan sekali. Selain itu, kotoran yang berada di sela-sela kuku juga harus dibersihkan.

5. Pemotongan Tanduk Kambing Bakalan

Tanduk kambing yang tajam bisa melukai kambing lain yang sekandang. Selain itu, fungsi tanduk dalam peternakan sering kali tidak diperlukan. Karena itu, ketika kambing berumur 2-3 bulan, peternak akan memanasi tempat tumbuh tanduk dengan cara menempelkan besi membara di tanduk. Kemudian, bagian yang dipanasi tadi diolesi dengan vaselin atau salep antibiotik untuk mencegah infeksi. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah tumbuhnya tanduk. Namun, kegiatan ini kurang efisien karena sering membuat kambing menjadi stres.

6. Mengeluarkan Kambing Dari Kandang (Olahraga)

Berdasarkan pengalaman peternak, kambing yang sering dikeluarkan dari kandang memiliki tingkat pertumbuhan dan daya tahan yang lebih bagus dibandingkan dengan kambing yang terus dikandangkan. Aktivitas kambing di luar kandang juga membantu kambing dalam mengendorkan otot-otot. Untuk sistem pemeliharaan secara intensif, biasanya kambing tidak digembalakan keluar kandang.

7. Memberi Tanda Pada Kambing

Untuk memudahkan pengenalan, ternak perlu diberi tanda pengenal. Di beberapa peternakan yangg sudah maju, setiap kambing memiliki tanda yang khas. Misalnya, diberi nomor pada telinga dengan cara mentatonya, memberikan kalung bernomor di setiap leher ternak atau dengan memakaikan nomor tag.

Sumber: Buku Petunjuk Praktis Menggemukkan Domba, Kambing dan Sapi Potong

Author:
• Thursday, February 17th, 2011

Berdasarkan jumlah kambing yang diternakan, kandang dibagi dua jenis. yaitu kandang individu dan kandang koloni. kandang individu biasa digunakan untuk induk kambing yang sedang bunting, laktasi atau pejantan. Sementara itu, kandang koloni biasa digunakan untuk pembesaran.

Sedangkan dari jenis konstruksi, kandang kambing dibedakan menjadi kandang lemprak dan kandang panggung. Berikut penjelasan kedua tipe kandang tersebut.

1. Kandang Lemprak

Kandang lemprak dicirikan dengan lantai yang menggunakan tanah sebagai alas. Lantai sebaiknya dibuat dari semen dengan corak kasar agar lantai tidak licin dan mudah dibersihkan. Lantai juga dibuat sedikit miring ke satu arah untuk mencegah adanya genangan air setelah kandang dibersihkan.

2. Kandang Panggung

Kandang panggung dicirikan dengan adanya tiang penyangga, sehingga lantai berada di atas tanah, dan berjarak 0,5 – 1 M dari atas permukaan tanah. Lantai kandang panggung biasanya dibuat dari papan atau potongan bambu dan memiliki tiang penyangga. Konstruksi kandang panggung lebih disukai dan lebih disarankan untuk digunakan dibandingkan dengan kandang lemprak, walaupun biaya pembuatannya lebih mahal.

Untuk menghindari kaki kambing terperosok, diusahakan lubang antar papan atau potongan bambu tidak lebih besar daripada kaki kambing. Lubang tersebut juga berfungsi untuk mengeluarkan kotoran sehingga kandang senantiasa dalam keadaan bersih.

Sumber: Buku Petunjuk Praktis Menggemukkan Domba, kambing, dan Sapi Potong

Author:
• Friday, March 19th, 2010

Pemilihan kambing bakalan yang bermutu diperlukan untuk menghasilkan keturunan yang lebih baik. Calon kambing bakalan sebaiknya berasal dari daerah setempat yang bebas dari penyakit dan beriklim kurang lebih sama.

Jika perlu pilih kambing yang mempunyai surat keterangan kesehatan hewan dan surat keterangan layak bibit, yang dikeluarkan oleh dinas yang menangani subsektor peternakan.

Karakteristik kambing bakalan yang baik, diantaranya memiliki tubuh yang sehat, postur tubuh bagus, mata bersinar cerah, tajam, tidak cacat tubuh, serta bulunya halus dan mengilap. Selain itu, kambing memiliki kemampuan pertambahan berat badan yang cepat dan konversi pakan yang baik.

Bakalan kambing jantan muda lebih cocok untuk digemukan daripada kambing betina, sebab pertambahan berat badan kambing jantan lebih tinggi. Disamping itu, kambing betina masih diperlukan untuk perkembangbiakan anak. Kambing paling responsif terhadap pakan sejak masa lepas sapi, yaitu saat berumur 7 – 8 bulan sampai ternak mengalami dewasa kelamin atau berumur 10 – 12 bulan.

Sumber: Buku Petunjuk Praktis Menggemukkan Domba, Kambing, dan Sapi Potong